ASTERIUM (chapter 18)

pizap.com14519684201711

 

Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert  (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)

Baca lebih lanjut

Asterium (chapter 17)

pizap.com14519684201711

Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert  (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)

.
.
.

Hai!!! #TebarBunga7rupa
Ada yang kangen saya? Hihihi
Ini bikin ngebut, tanpa koreksi typo. Bahasanya mungkin tidak sebaik chap 11, jdi harap maklum.

Happy Reading…!

.
.
.
.
.

Chapter 17

“Pesta ulang tahun ke 17?” Myungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Xi Yue baru saja menceritakan idenya yang menginginkan pesta ulang tahun megah dengan dana yang tentunya tidak sedikit.

Ajaib, aneh, unik, ketiga istilah tersebut tidak bisa menggambarkan betapa berbedanya sosok Xi Yue dengan gadis remaja pada umumnya. Xi Yue tidak akan segan bertingkah konyol, melompat-lompat layaknya anak kecil yang riang ketika mendeskripsikan setiap detail pesta impiannya.

“Ne, aku dan Yumi eonni lahir pada hari yang sama. Jadi pesta ulang tahun bersama bukanlah ide yang buruk.” Anggukan antusias dengan senyuman mengembang terbentuk di bibir gadis itu.

Yumi menggelengkan kepala. “Xi Yue, aku tidak tau. Eomma dan appa belum pulang, urusan perusahaan masih tidak bisa ditinggalkan.” Donghae menganggukkan kepalanya, tanda jika ia setuju dengan pendapat Yumi.

Bahu Xi Yue mengendik. “Tidak masalah. Aku sudah mendapatkan ijin, tak lupa nomor kontak yang bisa membantu. Appa bilang, kita boleh memesan apapun untuk pesta.” Tangan kanannya menggoyangkan ponsel yang kini menampilkan sebuah pesan singkat dari tuan Xi yang memberikan ijin adanya pesta ulang tahun. Di bagian bawah pesan juga ditulis limit dana yang dihabiskan untuk pesta.

“Xi Yue…” Yumi menggeleng, kepalanya menunduk. Sementara yang dipanggil malah sibuk berbincang dengan Hyukjae mengenai disert maupun kue tart yg lezat.

“Terima saja.” Taemin mengangguk.

“Tidak bisa begitu Taemin-ah.” Yumi menggeleng lagi. Rupanya teman-temannya belum mengerti atau mungkin melupakan fakta tentang ulang tahun ke 17 bagi Golden Rainbow Knights.

“Apa lagi yang kau pusingkan? Pesta ulang tahun bukanlah sesuatu yang buruk.” Kali ini Myungsoo yang menyahuti.

Donghae menepuk bahu Myungsoo dan Taemin dari arah belakang. “Kalian melupakan satu hal. Ulang tahun Yumi adalah waktu penentuan untuk kita.”

“Kita?” Serempak Myungsoo dan Taemin saling menatap, alis mereka bertautan dengan mimik wajah kebingungan.

Resiko terbesar menyingkat masa pendidikan adalah terlupakannya penggalan-penggalan materi penting. Rainbow Knights menjalani masa belajar yang singkat dengan jam belajar paling lama sepanjang sejarah. Beberapa materi bahkan belum disampaikan karena waktu yang mendesak.

.
.
.
.
.

Dua sosok sedang duduk bersisian di atas karpet, kepala mereka bersandar pada rak yang dipenuhi buku.

“Oppa, bagaimana?” Tanya gadis yang sibuk membaca sebuah buku tua.

“Setujui saja. Aku akan meminta Indigo untuk melihat masa depan. Bagaimanapun juga, Raja Marcus harus ditemukan secepatnya.” Pemuda yang dipanggil ‘oppa’ menjawab dengan santai. Jemarinya bergerak lincah mengetik di atas keyboard laptop.

Gadis itu menghela nafas, seluruh tubuhnya terasa kaku begitu mendengar jika Indigo ikut terlibat.”Kalau begitu, pesta ulang tahun ini juga berfungsi sebagai perangkap?” Tanyanya memastikan.

“Ya. Pesta ulang tahun akan menjadi perangkapnya. Marcus bilang jika ia berada di sekitar kita. Sementara ini aku menerka jika dia menyamar sebagai salah satu teman kita di sekolah.” Suara Donghae melirih di akhir kalimat. Ia bahkan tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

“Sekolah? Tapi aku terkadang merasakan keberadaannya di sekitar kediaman ini.” Yumi menyampaikan isi pikirannya yang bertolak belakang dengan dugaan Donghae.

Tangan Donghae terangkat, pemuda itu memijat pangkal hidungnya. “Itulah masalahnya. Jejaknya begitu bersih hingga kita sulit melacaknya.”

Mereka berdua menghembuskan nafas keras bersamaan lalu terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Oppa…” Yumi mengigit bibir bawahnya. Tangannya saling meremas untuk menghilangkan rasa gundah yang melingkupi hatinya.

Donghae menatap lekat adiknya. “Ada apa?”

“Apakah oppa tau tentang sosok misterius tanpa aura yang beberapa kali mendatangiku?” Ya, inilah yang sedari dulu menghantui pikiran Yumi. Sosok misterius yang sering datang ketika ia terlelap atau pingsan.

Alis Donghae terangkat sebelah, menurutnya Yumi mengatakan sesuatu yang sangat aneh. “Tanpa aura?” Ulangnya memastikan.

“Ne, sosok itu sama sekali tidak terdeteksi.” Kepala Yumi mengangguk. Netranya menatap Donghae dengan penuh harap agar pertanyaannya mendapatkan sebuah jawaban.

“Kau melupakan bab terakhir buku sihir level tertinggi.” Ingin rasanya Donghae mencubiti pipi Yumi dengan keras.

Mengerjap bingung, kepala Yumi dimiringkan ke samping. Tidak mengerti keterkaitan buku sihir dengan sosok tanpa aura. “Buku sihir? Kenapa Pangeran Aiden malah membahas buku sihir? Aku bertanya perihal sosok tanpa aura.”

“Sepertinya kejeniusanmu sedang menghilang. Sudahlah lupakan saja.” Bahu Donghae mengendik acuh. Percuma saja berbicara dengan Yumi jika ketelitiannya sedang terkacaukan oleh banyak pikiran.

Buku sihir memiliki banyak opsi di setiap bab, kenyataannya bab terakhir memuat lebih dari 50 halaman dengan 15 opsi yang begitu rinci. Entah usia keberapa adiknya membaca buku sihir, ia hanya mampu berharap jika adiknya segera mengingat bagian yang dimaksud.

“Dasar aneh.” Yumi mencebikkan bibir, netranya kembali berfokus pada buku tua. Buku itu adalah buku yanh dulu dimantrai, satu-satunya buku dari Asterium yang dibawanya.

“Auramu. Yang aku permasalahkan adalah aura Golden clan dari dirimu yang belum mencapai titik tertinggi. Jadi… Selama pesta ulang tahun berlangsung. Jangan pernah sekalipun kau mencoba memisahkan diri dari Xi Yue dan aku.” Pernyataan itu membuat Yumi termangu. Mendadak hatinya merasakan kekalutan yang luar biasa.

“Wa-waeyo?”

Donghae meletakkan laptopnya ke karpet, ia mengubah posisi ke samping lalu menarik tubuh Yumi ke dalam rengkuhannya. “Indigo bilang, ia melihat kilasan masa lalu. Marcus berencana menculikmu lagi.”

Erat, Yumi membalas pelukan Donghae dengan erat. Setitik air mata jatuh dari obsidiannya yang berkabut dengan cepat. Inilah saatnya, waktu dimana titik puncak peningkatan auranya menjadi sebuah penentu. Penentu apakah eksistensi Rainbow Knights bisa bertahan atau musnah begitu saja.

Golden Rainbow Knights adalah dirinya. Posisi yang menjadi kebanggaan tersendiri namun juga menjadi penentu.

.
.
.
.
.

Tuk

Batu kerikil terpental di atas meja, kerikil itu menggelinding lalu terjun bebas menuju lantai. Indigo diam, ia hanya mengamati gerakan kerikil tersebut. Kerikil yang pasti dilemparkan karena sebuah kerikil tidak mungkin bisa bergerak sendiri.

“Indigo…” Panggilan pelan itu membuat remaja bermata sipit memutar tubuhnya.

Tidak jauh di hadapannya Red sudah berdiri dengan mata yang berkilat penuh amarah. “Wae?”

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Red masih tetap menatap lekat obsidian berwarna nila milik Indigo.

“Tidak.” Jawab Indigo lugas.

Sebelah sudut bibir Red tertarik, ia mendengus mendengar jawaban Indigo. “Bagaimana dengan ini?” Red mengulurkan tangannya, menunjukkan simbol naga yang berpendar dengan warna merah dan emas, namun ada satu titik yang berbeda, bagian mata naga tidak bersinar.

“R-red…” Tergagap, lidah Indigo mendadak terasa kelu.

“Kau mengetahui sesuatu tentang sosok misterius yang selalu menyembuhkanku. Simbolku berubah sejak aku diculik oleh Raja Marcus.” Obsidian Red makin berkilat tajam, kobaran api sudah melingkupi telapak tangannya.

Tap

Tap

Tap

Red mengikis jarak, membuat tubuh Indigo terkurung diantara Red dan meja. “Katakan!” Desak sang Cahaya Utama.

“Sungguh, aku tidak mengerti apa maksudmu.” Manik mata Indigo bergerak gelisah, nafasnya juga menderu saat Red mulai mengulurkan tangan kanan yang berkobar api tepat di depan wajahnya.

Sreeet

“Re-red… Uhukk.” Indigo merasa lehernya terbakar. Tangan yang berkobar api itu mencekiknya dengan kuat.

Inilah akibat jika membohongi sang Cahaya Utama. “Indigo, kau tau apa ikrar yang diperuntukkan bagi enam cahaya. Ucapkan ikrarmu!” Red terus mendesak, ia mengeratkan cekikannya pada leher Indigo.

“Enam cahaya dituntut untuk tidak menyembunyikan apapun pada Cahaya Utama.” Ucap Indigo dengan susah payah, lehernya terasa sakit. Kekuatan Red tidak bisa dianggap sepele meskipun ia seorang gadis.

“Bagus, sekarang penuhi ikrarmu!” Corak emas di tepi irish milik Red mulai berpendar kuat, menegaskan jika posisinya saat ini adalah Golden Rainbow Knights.

Sakit, leher Indigo bisa remuk jika cekikan Red tidak segera dilepaskan. “Akkkh…” Rintihan itu tidak cukup menyadarkan sang Cahaya Utama agar menghentikan cengkraman tangannya.

“Aku tidak bisa.” Indigo memejamkan matanya. Ia sadar jika apa yang diucapkannya bisa saja menjadi kalimat terakhirnya.

“Kalau begitu, rasakan ini!” Red mengeratkan cengkramannya, mengangkat posisi tangannya hingga tubuh Indigo ikut terangkat.

“ARRRGHHH!!!” Erangan nyaring itu terdengar bersamaan dengan tubuh Indigo yang terangkat sempurna dari atas tanah, kakinya tidak memijak apapun untuk menopang berat tubuhnya.

“HENTIKAN RED! KAU MELUKAI INDIGO!”

Brug

Pangeran Aiden datang diwaktu yang tepat, ia langsung memukul bahu adiknya dengan keras hingga cengkraman itu terlepas. Kini Indigo jatuh tersungkur di atas tanah beralaskan rumput.

“Jangan pernah ikut campur Pangeran Aiden.” Red mendesis, netranya masih berkilat dengan cahaya yang berpendar. Sungguh menakutkan.

“Kau!” Geram. Aiden merasa geram melihat adiknya didominasi oleh amarah.

Telunjuk kiri Red teracung ke arah Indigo yang masih tergeletak dengan nafas lemah dan mata yang nyaris tertutup rapat. “Indigo, dia mengetahui sesuatu.”

“Benarkah?” Terkejut, Aiden menggeser atensinya untuk beralih menatap sosok yang tampak sangat lemah itu. “Indigo, apa itu benar?” Tanyanya ragu.

“Akkkh…” Indigo merintih. Tangannya mencengkram kepala dengan kuat, menarik rambutnya seolah rasa sakit yang ia rasakan begitu dahsyat.

Aiden berjongkok, ia menyentuh dahi Indigo. “Elemen apa yang kau gunakan Red?”

“Mind controler.” Jawab Red dengan singkat.

Mimik wajah Aiden berubah panik. “Apa!!!” Pekiknya tanpa sadar, ia langsung menarik tubuh Indigo, memangku kepalanya.

‘Green, cepat berteleport ke mansion Xi.’ Sebuah telepati dikirimkan oleh Aiden pada Green.

‘Ada apa Pangeran Aiden?’ Tanya Green dengan penasaran. Tidak biasanya sang Pangeran hanya mengirimkan telepati khusus padanya.

‘Indigo terluka.’ Jawaban itu berhasil membuat Green yang sedang menikmati secangkir kopi di rumahnya menjadi tersedak.

Hal genting apa yang mampu melukai Indigo hingga membuat sang Pangeran menjadi panik? Yang pasti kali ini adalah luka yang serius. Luka yang hanya bisa disembuhkan oleh healer.

.
.
.
.
.

Pagi itu dua gadis dengan baju renang tampak asyik bercengkrama setelah lelah meliukkan tubuh dalam air.

“Eonni lolos tes akselerasi?” Tanya gadis yang sedang memakai handuk kimono. Gadis itu mengambil posisi duduk di pinggiran kolam, membiarkan kakinya tetap berada di air hingga sebatas lutut.

“Eum, tentu.” Jawab gadis lain yang masih berada di dalam kolam renang. Menelentangkan tubuh seolah air kolam adalah ranjang yang empuk dan tidak bisa membuatnya tenggelam.

“Siapa saja yang lolos?” Tanya Xi Yue dengan penasaran.

“Aku, Hyukjae, Naeun, Taemin, Seokjin, Jongwoon, Myungsoo, dan Kyuhyun.” Yumi menjawabnya dengan santai, matanya sesekali terpejam.

Mengerjapkan mata, Xi Yue sangat terkejut. “Jadi kalian semua lolos?”

“Yups.” Masih di posisi yang sama Yumi mengiyakan.

Bibir Xi Yue mengerucut, ia mencipakkan air dengan kakinya. “Ahhh, aku akan sendirian berada di tingkat 2 kalau begitu.”

“Jangan mendramatisir, dari awal aku sudah memberitahukan jika aku ingin mengikuti tes akselerasi.” Yumi merubah posisinya, kini ia kembali berdiri untuk bersiap mengambil ancang-ancang sebelum mulai menyelam.

Obsidian Xi Yue mengawasi gerakan eonni-nya yang tengah berenang, meliukkan tubuh layaknya ikan lumba-lumba dengan mudah.

“Hahhh…” Yumi menarik nafas dalam.

Xi Yue mengulurkan tangannya untuk membantu Yumi keluar dari kolam.”Jongwoon sakit ya?”

“Dia hanya demam.” Kali ini Yumi menjawabnya dengan menundukkan kepala, bahasa tubuh yang mengisyaratkan jika ada sesuatu yang ditutupi.

“Pantas saja aku tidak melihatnya, rupanya dia bisa sakit juga.” Respon Xi Yue dengan sekenanya. Tidak berminat menanyakan sesuatu yang lebih mengenai kondisi Jongwoon.

“Semua bisa sakit, kecuali malaikat.” Yumi terkekeh pelan, ia sudah mengenakan handuk kimono juga.

Kepala Xi Yue menoleh dengan cepat ke samping, matanya memicing dengan bibir yang mencibir kesal. “Eonni berucap seolah mengetahui sosok malaikat. Seolah eonni juga makhluk aneh yang berasal dari dimensi berbeda.”

Hening… Perkataan Xi Yue sukses membuat Yumi terpaku. Makhluk dari dimensi yang berbeda? Ya, ia memang bukan manusia melainkan krystalier. Makhluk dengan kekuatan supranatural serta kemampuan mengendalikan elemen dan cahaya.

“Membosankan!” Pekikan kesal diiringi dengan kecipak air membuat Yumi tersadar dari lamunan singkatnya.

“Apanya yang membosankan?”

“Aku bosan. Liburan masih lama.” Bibir itu mencebik beberapa kali, tanda jika Xi Yue sungguh merasa kesal.

“Tentu saja, ini liburan musim panas.” Mengendikkan bahu. Yumi hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.

“Ahhh, aku benci libur panjang!” Xi Yue berteriak, ia menengguk segelas jus strowberry dengan cepat.

“Kami menyukainya.” Sebuah suara berbisik dari arah belakang tepat di telinga Xi Yue.

“Uhuk, uhuk… Aigooo… Kalian lagi, kalian lagi. Sehari saja tidak muncul di rumah kami, apa tidak bisa?” Xi Yue menatap horor lima remaja yang kini terkekeh di belakangnya. Nampaknya mereka semua merasa sangat senang bisa mengerjainya hingga tersedak minuman.

“Kau keberatan?” Remaja dengan gummy smile tersenyum mengejek, matanya mengerling.

“Tentu saja, kalian selalu menguasai Yumi eonni dan menelantarkanku.” Sungut Xi Yue tidak terima.

Naeun mengacak rambut basah Xi Yue dengan gemas. “Kau saja yang terlalu banyak kegiatan Xi Yue-ya. Kursus memasak, menjahit, menyanyi, taekwondo, dan piano. Belum lagi yoga di hari minggu, shopping sebulan sekali, dan pergi ke salon.”

“Aishhh.” Desisan kesal meluncur dari bibir Xi Yue. Memang jadwal kursusnya sangat banyak, itu karena orangtuanya yang selalu menginginkan seorang anak gadis yang multitalenta.

“HAHAHAHA!!!” Serempak mereka tertawa. Hyukjae, Taemin, dan Myungsoo malah terpingkal-pingkal.

“EONNI, MEREKA JAHAT!!! TAEMIN, HYUKJAE, MYUNGSOO, HENTIKAN!”

“Lagi-lagi seperti ini.” Yumi menghela nafas, Xi Yue berteriak dengan oktaf tertinggi yang mampu dicapainya.

‘Nikmati masa senangmu Red. Rainbow Knights aku akan datang.’ Sebuah telepati menyusup ke dalam pikiran ketujuh Kesatria. Indigo yang sedang berada di rumahnya sendiri juga menerima telepati itu.

Deg

Terpaku, semuanya terdiam membisu seketika. Bahkan Hyukjae, Taemin, dan Myungsoo yang tertawa terpingkal langsung bungkam.

Byurr

“Makhluk jahat kurang kerjaan!” Xi Yue melempar sebuah apel ke dalam kolam renang. Ia berdiri lalu berjalan cepat memasuki rumah.

“Eh?” Yumi mengernyit. Kenapa Xi Yue menyebut makhluk aneh? Siapa yang dimaksudkan oleh Xi Yue.

.
.
.
.
.

Kediaman Xi sudah dipenuhi oleh para tamu, Yumi hanya mengundang beberapa teman sedangkan Xi Yue mengundang teman sekelas, teman grup, teman Junior High bahkan teman kursusnya.

Tema busana adalah ‘Istana’, jadi semua gadis mengenakan gaun dan laki-laki mengenakan jas. Desain interior mansion sudah cukup mendukung, hanya beberapa tambahan seperti bunga dan kain-kain yang menjuntai di beberapa tempat, lilin-lilin di atas meja, serta karpet berwarna merah yang terbentang.

“Bagaimana hasilnya?” Donghae bertanya pada enam remaja yang berjalan mendekatinya.

Remaja dengan mata sipit dan tatapan tajamnya menggeleng. “Mereka tidak memiliki aura Darklier.” Myungsoo mengucapkannya dengan setengah putus asa.

Sejak satu jam yang lalu keenam Rainbow Knights memeriksa satu-persatu tamu yang datang, berusaha mendeteksi aura kelam mereka.

“Periksa sekali lagi!”

“Baik.” Serempak mereka berenam mengangguk lalu mulai berpencar, membaur dengan para tamu untuk mencari sosok yang mereka incar.

Netra Donghae merilik ke arah jam dinding, bibirnya mendesis tatkala menyadari jika dua tokoh utama pesta belum juga menampakkan diri, padahal jarum jam sudah menunjuk angka 8.
‘Kenapa kalian lama sekali?’ Tidak ada pilihan selain mengirimkan sebuah telepati.

‘Xi Yue ingin bertukar gaun.’ Jawaban dari Yumi membuat desisan kesal Donghae semakin kentara.

‘Dress yang aku belikan sama-sama berwarna putih dengan desain yang serupa. Jangan membodohiku.’ Sungutnya tidak terima. Ia sudah memilihkan gaun pesta yang sangat indah untuk keduanya, desain gaun itu bahkan serupa, nyaris sama persis.

‘Jelas-jelas dress milik Xi Yue berwarna merah, lalu milikku berwarna putih seluruhnya. Xi Yue lebih menyukai soft pink atau baby blue, jadi ia menukar gaunnya.’ Yumi mengirimkan telepatinya dengan setengah mengomel.

Donghae memutar bola mata. ‘Sepertinya desainer Shin salah mengirimkan paket. Cepatlah turun!’ Perintahnya dengan tidak sabar.

Tap

Tap

Tap

Suara langkah kaki yang tergesa membuat Donghae segera mengakhiri telepati.

“Kami menemukan ini.” Jongwoon mengulurkan sepucuk surat pada Donghae.

Alis Donghae bertaut, “Surat?” Tanyanya memastikan.

“Surat ini diselipkan pada kiriman bunga mawar merah. Orange, Green, dan Yellow sedang memeriksa buket bunga tersebut di halaman belakang. Blue dan Purple masih sibuk mengawasi para undangan.” Ucap Indigo dengan suara lirih. Penjelasan tersebut sudah cukup menentukan siapa pengirim surat serta buket bunga yang dimaksud.

Donghae membuka surat itu, maniknya bergerak menjelajahi deretan huruf yang pastinya merupakan sebuah petunjuk.

*Sekelebat bayangan ditengah kegelapan. Tenang, cepat, dan mematikan. Warna paling dominan yang mengalir dalam raga, kini membungkus lekuk yang diincar. Membeku layaknya kekuatan waktu sang tahta kedua, mimpi buruk menjemput dengan samar.*

Benar dugaannya. Surat tersebut berasal dari Raja Marcus.

“Hafalkan kalimat ini!” Donghae menyerahkan kembali surat itu pada Jongwoon.

“Ini surat dari Raja Marcus?”

Donghae mengangguk. “Benar, ini surat darinya. Selama kalian menyelidiki para undangan, cobalah untuk menggali makna kalimat tersebut.”

“Baik.” Jongwoon kembali membaur dengan para tamu. Meninggalkan Donghae berdiri diam dan sibuk berpikir.

.
.
.
.
.

“Yumi, selamat ulang tahun!” Seruan riang dari Kyuhyun membuat Yumi tersenyum.

Kyuhyun mendekat, memeluk sekilas tubuh Yumi.

“Terima kasih.” Yumi hanya diam, tidak berniat membalas pelukan tersebut.

“Kau ke mana saja? Tidak pulang ke mansion semalaman. Perusahaan lagi?” Donghae menghampiri keduanya, melempar pertanyaan pada Kyuhyun yang seringkali tidak pulang.

Menggeleng, Kyuhyun mengangkat sebuah kandang kecil dan memperlihatkan isinya. “Tidak, kemarin aku mengambil kucing persia milik Xi Yue. Ini kucingnya.”

“Wahhh, lucu sekali.” Yumi tersenyum melihat kucing kecil berbulu putih yang tampak menggemaskan dengan mata sebiru samudra.

Pletak

Jitakan keras dilayangkan Donghae. “Yakk! Donghae hyung, kenapa menjitakku?” Tangan Kyuhyun sibuk mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri.

Melihat ekspresi yang berlebihan membuat Donghae mencibir. “Semakin lama kuperhatikan, kau bertingkah seperti kucing yang sedang kasmaran. Tidak pulang ke rumah dan tidak pula memberi kabar. Appa dan eomma akan mencincangku karena mengira diriku mengabaikanmu.”

“Berlebihan. Aku ini sudah dewasa meskipun usia kita terpaut beberapa tahun.” Kyuhyun menyahuti dengan kesal. Tangannya masih mengusap kepala, sepertinya jitakan Donghae terlalu kencang.

“Ralat ucapanmu Kyu! Kita hanya selisih 2 tahun.” Donghae memutar bola mata. Sifat Kyuhyun semakin aneh jika ia perhatikan, bahkan menghitung selisih usia saja tidak bisa.

Mimik wajah Kyuhyun berubah, ia menganggukkan kepala lalu memasang tampang lega. “Ahhh, baguslah kalau Donghae hyung tidak pikun.”

“Aishh, kau ini.” Donghae mengepalkan tangannya, bersiap untuk menjitak kepala Kyuhyun sekali lagi.

Mengerti akan bahaya yang mengancam, Kyuhyun segera memundurkan tubuh dan menolehkan kepala ke kanan lalu ke kiri. “Di mana si cerewet itu?”

“Aku di sini manusia PSP.” Seruan ceria muncul dari balik punggung. Kyuhyun sedikit terkejut melihat kemunculan Xi Yue yang tidak diketahuinya.

“Ini hadiah dariku.” Tangannya menyodorkan kandang kecil itu dengan sedikit kesal.

Cemberut, Xi Yue mengambil kucing kecil di dalam kandang lalu mendekatkannya di depan wajah Kyuhyun. “Hadiah? Kau mengejekku? Hei, kucing ini telah kau sanggupi sejak lama. Hadiah macam apa yang dijanjikan sejak lama? Konyol sekali.”

“Sudahlah, terima saja!” Kyuhyun mendorong tangan Xi Yue, berusaha menjauhkan kucing persia itu dari depan wajahnya.

“Ahhh, Yumi ini hadiah untukmu.” Kyuhyun membalikkan badan, menyerahkan sebuah kotak kado kecil yang baru dikeluarkannya dari saku jas.

“Bukalah!” Perintahnya dengan antusias disertai senyuman lebar yang malah membuat Xi Yue memutar bola mata.

Yumi tersenyum, tangannya melepas ikatan pita lalu membuka kado itu. “Gelang?”

“Eum, karena kau sudah punya kalung. Aku berniat memberimu gelang yang serupa, batu berlian berwarna merah. Ayo pakai!” Kyuhyun berinisiatif membantu Yumi memakai gelang tersebut.

Gelang itu nampak cantik dengan batu berlian bulat mungil yang terselip di tengah emas putih berbentuk bintang. Ada 7 bintang yang terkait pada rantai gelang, membuat gelang itu nampak sangat cantik.

“Akkh…” Yumi merintih kesakitan setelah Kyuhyun berhasil mengaitkan gelang.

Donghae terbelalak melihat darah merembes dari tangan Yumi, dengan segera ia melepas gelang itu. “Yakkk, Kyuhyun. Kenapa kau memberikan gelang yang gagal produksi begini? Aigooo… Tangan Yumi jadi terluka.” Ada bagian rantai yang ternyata mencuat seperti jarum berujung runcing.

“Gwenchana oppa, hanya sedikit tergores.” Yumi berusaha menenangkan Donghae, meskipun tak bisa dipungkiri jika tangannya terasa sangat sakit.

Raut wajah penuh sesal tercetak jelas, Kyuhyun menarik tangan Yumi yang tidak terluka dan menyeretnya untuk pergi. “Mianhae, biar aku obati. Ayo ikut aku!”

“Yakkk, Kyuhyun! Kau bawa ke mana adikku?” Donghae berteriak.

Sementara itu, Xi Yue memasukkan lagi kucing persia ke dalam kandangnya. Ia melangkah pelan mengekor dibelakang Kyuhyun serta Yumi, berusaha tidak terlihat mencolok dengan cara membaur melewati para undangan.

Brug

“Minggir!” Seruan tersebut membuat Yumi menghentikan langkah.

Di hadapan Kyuhyun tampak Taemin menghadang dengan membawa kotak obat. “Hey! Hati-hati saat berjalan Taemin-ah.” Tegur Kyuhyun.

“Aku saja yang mengobati lukanya. Xi Yue mencarimu.” Taemin melepaskan genggaman Kyuhyun pada pergelangan tangan Yumi. Menarik Yumi agar berpindah posisi menjadi berdiri di sampingnya.

“Tidak, biar aku saja.” Kyuhyun mengulurkan tangannya, berusaha meraih bahu Yumi.

Taemin menggeser tubuhnya ke samping untuk menghalangi tangan Kyuhyun. “Ayolah Kyuhyun, kau tidak mengerti apapun soal medis.” Kilahnya dengan kekeuh.

“Darahnya merembes terus.” Kyuhyun melihat darah di pergelangan tangan Yumi.

“Justru itu, cepat pergi.” Taemin tidak akan membiarkan siapapun menyentuh darah Yumi. Darah Golden Rainbow Knights bagaikan sebuah ramuan serbaguna di detik-detik menjelang ulang tahun ke 17.

Brakkk

Pintu kamar ditutup dengan keras oleh Kyuhyun, ia merasa kesal karena gagal mendapatkan darah Yumi. Jadi ia memutuskan pergi ke kamarnya, menunggu waktu mendekati tengah malam guna menjalankan rencana selanjutnya.

“Aku terkesan sekali. Rupanya kalian mengetahui jika darah Red juga menjadi incaranku selain auranya.” Seringai di bibirnya nampak mengerikan.

Brug

Tiba-tiba tubuh Kyuhyun terdorong ke belakang, punggunya menghantam dinding dengan keras. Seseorang mendorongnya secara cepat dengan kekuatan luar biasa.

“Jangan mencoba untuk menyakiti siapapun!” Sepasang netra berwarna coklat yang berkilat marah menatap sepasang manik mata hitam kelam milik Kyuhyun.

Kyuhyun berusaha tetap santai dan tidak menunjukkan rasa kagetnya. “Xi Yue, apa yang kau bicarakan heum? Aku sungguh tidak mengerti.”

“Jangan berkilah Marcus!” Tanpa disangka sebelumnya, Xi Yue mendekat lalu mencekik leher Kyuhyun.

Kyuhyun diam, ia mengakui jika cekikan di lehernya memang sangat erat. Tapi saat ini bukan cekikan itu yang menjadi masalahnya melainkan sebuah fakta baru jika Xi Yue ternyata mengetahui identitasnya.

Netra Xi Yue masih menatap dengan nyalang, mimik wajahnya begitu tenang tanpa rasa takut. “Kau tidak bisa membunuhku Marcus.” Kalimat tersebut terucap dengan penuh penekanan.

“Benarkah?” Tanya Kyuhyun sarkastik. Kekuatannya bahkan mampu membunuh ratusan manusia hanya dengan menjentikkan jari dan mempengaruhi pikiran.

Bibir itu tertarik, Xi Yue juga memunculkan seringai kecil yang terlihat tidak asing di mata Kyuhyun. “Buktikan saja.” Ucap Xi Yue singkat sebelum gadis itu keluar dari kamar Kyuhyun.

“Dia 100% manusia, tapi kenapa aku merasa jika dia berbeda? Ada suatu rahasia lagi. Ini semakin menarik.” Obsidian Kyuhyun tertuju pada pintu kamarnya. Ada sesuatu yang tidak beres pada Xi Yue, gadis itu terlalu berani menantangnya.

Bahkan Red yang memiliki Immortal Diamond bisa dibunuhnya dengan mudah saat titik puncak aura Golden Clan muncul. Mengapa Xi Yue yang notabene seorang manusia biasa malah berani menantangnya? Sungguh menarik.

.
.
.
.
.

Sepasang obsidian Donghae memicing melihat gaun yang dikenakan oleh Yumi.

“Aku mendadak ingin memarahi disainer Shin.” Bibirnya mengerucut kesal. Jelas-jelas kemarin ia membeli dua gaun berwarnah putih yang cukup cantik. Tapi kenapa yang satunya berubah menjadi merah menyala, belum lagi model tali spageti yang berhasil mengekspos bahu adiknya.

Mengernyit, Yumi melihat gaunnya sendiri. Apa yang salah? Gaun merah yang dikenakannya sangat bagus. “Wae?”

“Gaun yang kau kenakan seolah mengingatkanku pada sesuatu.” Kini Donghae yang mengernyit, instingnya sebagai Pangeran mulai memproses hal yang membingungkan.

Menurutnya gaun merah tersebut memiliki sesuatu yang tidak biasa, gaun itu tampak sangat memukau, apalagi batu liontin yang dikenakan Yumi juga berwarna merah. Sesuai, itulah kesan yang tampak. Andai irish mata Yumi tidak tertutupi hardlens, pasti sekarang Yumi sudah menjadi pusat perhatian.

“Sebentar lagi pukul 12 malam.” Suara Yumi memecahkan imajinasi Donghae. Maniknya bergeser melihat jam dinding, memang benar 2 menit lagi adalah pukul 12 malam.

“Sekelebat bayangan ditengah kegelapan (kemunculan Marcus saat tengah malam). Tenang, cepat, dan mematikan. Warna paling dominan yang mengalir dalam raga, kini membungkus lekuk yang diincar (Dress berwarna merah yang dikenakan oleh Yumi). Membeku layaknya kekuatan waktu sang tahta kedua, mimpi buruk menjemput dengan samar.” Yumi menolehkan kepala dengan cepat, maniknya membulat saat mendengar Donghae mengucapkan untaian kalimat aneh yang pastinya berhubungan dengan kejadian yang akan terjadi.

Kilatan marah terlihat, tatapan Donghae berubah menjadi tajam. “Dia datang…” Ucapnya lirih. Kepekaannya mendeteksi sebuah aura kelam yang muncul tidak jauh dari arah pintu utama.

“Oppa membuatku takut.” Yumi merapatkan tubuhnya ke arah Donghae, memeluk kakaknya dengan erat. Tangannya juga terasa gemetar.

“Tenanglah.” Merasakan lengan Yumi yang gemetar membuat Donghae sadar jika adiknya kini sangat ketakutan.

Ulang tahun ke 17, usia yang kini disandang oleh Red akibat melewati portal galaxi. Usia yang paling menentukan keselamatannya. Andai Red yang notabene adalah Putri Airen Delavina kini masih berada di Asterium. Maka bukan hanya Marcus yang akan mengincarnya namun banyak Raja dari berbagai Dimensi.

Klik

“KYAAAAA!!!” Para tamu undangan berteriak. Listrik mendadak padam. Ruangan yang tadinya terang sekarang menjadi gelap gulita.

“TENANG SEMUANYA! LISTRIK PADAM, KAMI AKAN MEMERIKSA GENERATOR.” Teriakan keras itu adalah suara Hyukjae, upaya yang bagus untuk menenangkan para undangan yang panik.

Wussh

Aura mencekam itu tiba-tiba mengikis jarak dengan cepat, sepertinya Raja Marcus menggunakan teleportasi. Yumi mengeratkan pegangannya di lengan Donghae, keenam Rainbow Knights langsung berteleportasi mengelilingi mereka berdua.

“Op-oppa, dia ada di dekat kita.” Suara Yumi tercekat. Sepertinya Raja Kegelapan itu muncul dengan aura serta kekuatan yang paling tinggi.

“Tetap pegang tanganku dan kendalikan pikiranmu.” Donghae memeluk Yumi, lalu membawanya berteleportasi ke halaman belakang.

Wussh

Keenam Rainbow Knights tetap berada di ruang tengah, menunggu pergerakan dari aura mencekam yang mereka rasakan.

‘Red…’ Nafas Yumi menderu, kepalanya menggeleng dengan cepat. Berusaha menolak telepati yang menyusup dalam pikirannya.

‘Kau ingin melarikan diri heum?’ Gagal, telepati itu terlanjur masuk. Yumi tidak bisa menghalaunya dengan cara memblokir pikiran.

“Jangan mendekat!” Pekikan tertahan Yumi membuat Donghae semakin waspada, ia mengedarkan pandangan, menyapu tiap sudut halaman belakang.

Wussh

“Hai…” Sosok dengan jubah dan tudung berwarna hitam muncul dengan sebilah pedang di tangan kanannya.

Donghae menatap sosok itu dengan lekat, ia seperti mengenali perawakan tersebut. Cahaya bulan tidak cukup membantunya untuk mengenali rupa dari Raja Marcus.

“Aroma yang sangat manis, ijinkan aku untuk menyerapnya.” Marcus mendekat. Seperti sebelumnya, rumput yang dipijak olehnya akan terbakar.

Donghae diam, ia berusaha tetap tenang sembari melindungi Yumi dalam pelukannya. Yumi memang mencapai titik puncak saat ini, membiarkan Yumi bertarung sama saja dengan menyerahkan nyawa Rainbow Knights serta Immortal Diamond dengan sukarela.

Jleb

“Akkkh…” Rintihan Marcus membuat Donghae mengernyit.

Tubuh Raja Marcus terduduk begitu saja, tangan kanannya memegangi bahu kiri dengan erat. Ada panah yang tertancap di bagian belakang bahunya.

“Pergi Marcus! Jika kau masih ingin hidup.” Siluet tubuh seorang gadis muncul dari balik pohon dengan membawa sebuah busur panah.

Menggeram tertahan, Raja Marcus berdiri dengan susah payah lalu membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu. “Xi Yue, kau telah melakukan kesalahan fatal.”

“Kau yang memulai. Jadi jangan salahkan aku karena melukai dirimu.” Tanpa disangka siapapun, Xi Yue berani menantang Raja Marcus. Dagunya terangkat dengan mimik angkuh yang tak kenal takut.

“Nantikan pembalasanku.”

Wussh

Raja Marcus menghilang. Menyisakan tiga remaja yang kini saling menatap dengan pandangan yang sangat penasaran.

Brug

Yumi jatuh terduduk. Apa yang dialaminya barusan membuatnya lemas.

“Gwenchana?” Donghae bertanya dengan khawatir, ia mengangkat tubuh Yumi agar kembali berdiri dengan setengah menyandar pasa tubuhnya.

Yumi mengangguk, ia menatap lekat manik mata Xi Yue. “Gwenchanayo… Xi Yue, bagaimana bisa kau-.”

“Nyaris saja. Aku akan menjelaskan semuanya pada eonni, tapi tidak untuk saat ini. Marcus sudah pergi, aku menyerangnya dengan panah yang telah aku bubuhi racun ular. Makhluk jahat itu memang tidak akan mati, namun ia butuh waktu untuk memulihkan diri.” Gadis periang itu berbicara dengan ringan seolah apa yang dihadapinya hanyalah seekor tikus.

Satu lagi misteri yang muncul dan harus diselidiki. Xi Yue, rupanya gadis itu mengetahui semuanya. Seorang manusia yang merupakan duplikat dari Xi Yue yang dikorbankan ketika bayi.

.
.
.
.
.

Asterium…

Kilat menyambar, menghanguskan apapun yang dusentuhnya. Semua Master sibuk membangun perisai, berteleportasi ke banyak tempat untuk meminimalisir kerusakan.

Destiner, mereka berdiri mematung di depan ruang penyimpanan Destiny Book. Robert maju untuk membuka pintu, ia melangkah mendahului yang lain untuk menghampiri meja.

Ramalan yang dinanti akhirnya muncul, aksara mibel terlihat mengukir lembaran putih Destiny Book.

‘Krystal Bintang bersemayam dalam tempat tergelap tanpa cahaya, terkunci dalam kotak berlambang kehidupan, dan dijaga oleh sebuah kilauan dari dunia tak tersentuh. Di bawah cekungan curam yang ada di antara rerimbunan. Saat ketujuh cahaya menemukan kilas balik yang terbuang sementara, saat kegelapan mulai mengalihkan tujuan, maka yang tersisa hanya dua pilihan. Pengembalian? atau pemusnahan? seluruh semesta dengan sebongkah keabadian. Berlomba di atas Planet dengan udara tunggal penyongsong kehidupan. Kunci pembuka berasal dari tempat di celah keramaian, tempat yang selalu ramai pada hitungan hari tertentu.’

Robert memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Ia menarik nafas untuk menstabilkan emosinya yang tak terkendali. “Ramalan Destiny Book sudah muncul, namun isi ramalan tersebut sama persis seperti ramalan ketika Rainbow Knights dikirim dan ramalan tersebut sungguh menentukan segalanya. Rainbow Knights terancam gugur dalam perperangan di Bumi andaikata Raja Marcus berhasil mengambil Krystal Bintang lebih dulu.”

Kenyataan tentang ramalan itu membuat suasana Asterium semakin suram. Segalanya tidak mungkin lagi jika Raja Marcus berhasil mengambil Krystal Bintang. Krystal yang bisa mengabulkan permintaan para pewaris tahta ketika gerhana Meylen terjadi di Asterium.

“Kita harus segera mengirimkannya. Meskipun kalimat yang muncul sama persis, namun aku memiliki firasat jika mereka melupakan penggalan terakhir. Ini adalah isyarat agar kita mengingatkan mereka.” Tangan Gabriel sibuk meraba satu-persatu kantung jubahnya. Ia mengeluarkan secarik kertas lalu menempelkan kertas tersebut di atas tulisan ramalan Destiny Book.

Michael tau jika Destiner termuda itu tengah menggandakan tulisan Destiny Book dengan mantra sebelum tulisan yang berbentuk aksara Mibel itu memudar. “Caranya?” Tanya Michael dengan penasaran.

“Satu diantara kita harus menerobos ruang dimensi yang disegel.” Robert menunjukkan sebuah kunci kecil dengan ukiran simbol naga pada kepala kunci itu.

Michael mengambil kunci tersebut dari tangan Destiner Robert. “Biar aku saja.”

“Kekuatanmu akan terkuras, untuk beberapa lamanya kau tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu.” Gabriel menjelaskan efek yang akan menimpa Michael andaikata Destiner tingkat dua itu sungguh-sungguh nekat menerobos ruang dimensi.

Sudut bibir Michael tertarik membentuk lengkungan senyum tipis. “Tidak apa-apa. Tugas Destiner adalah menyampaikan ramalan Destiny Book. Apapun yang terjadi padaku, itu sudah takdirku.”

Kunci itu dimasukkannya dalam saku jubah, tangan kanannya lalu terulur ke arah Gabriel untuk meminta secarik kertas yang kini sudah memuat dublikat dari ramalan Destiny Book.

Mereka harus cepat, saat ini satu detik waktu saja terasa berharga. Keterlambatan akan membuat banyak nyawa melayang.

.
.
.
.
.

“Cahaya Utama adalah pengikat enam tingkat cahaya yang lain (Red adalah seorang pemimpin yang memiliki keterikatan dengan semua Rainbow Knight), ia tumbuh dengan kemampuan secepat badai (Kecepatan gerak Red yang luar biasa). Pengendalian inti dari unsur pertama setelah pembangkitan (Kekuatan Red yang terus meningkat setelah upacara), ia kunci portal titik balik (Red yang memiliki kunci untuk membuka lorong antar dimensi), penguasa seluruh elemen dan pendengar suara terpendam (bisa membaca pikiran). Misi pencarian Krystal Bintang di suatu tempat, Rainbow Knight dengan takdir tingkatan yang sama.” Pangeran Aiden mengulangi isi ramalan Destiny Book yang dikiranya akan berkesinambungan dengan ramalan Destiny Book yang barusaja dikirim. Otaknya bekerja keras memeras arti baru dari kalimat Destiny Book yang jujur saja tidak ada bedanya dengan ramalan sebelumnya.

Memang terjemahannya akan sedikit berbeda dengan Destiner, tapi secara garis besarnya pastilah serupa. Banyak hal tentang Asterium maupun kisah Rainbow Knights terdahulu yang dipelajarinya. Menerjemahkan Destiny Book juga pernah dipelajarinya, jadi tidak masalah jika ia mempraktekkan ilmu membongkar kalimat kiasan Destiny Book sekarang.

Netranya menatap lekat pada secarik kertas yang tadi ditemukannya dalam saku baju zirah. Kertas itu bukan kertas biasa, itu adalah kertas robekan dari buku sihir. Ada lambang kerajaan Asterium juga yang tercetak di bagian ujung kiri atas.

“Kapan kita mengambilnya?” Blue bertanya pada Pangeran Aiden yang sedang mengamati kiriman ramalan Destiny Book yg baru.

Ya, mereka semua sudah mengetahui jika kertas tersebut merupakan kiriman langsung dari Destiner Michael. Mereka mendapatkan mimpi yang sama ketika tidur, mimpi yang menyatakan jika ada sebuah petunjuk baru mengenai titik koordinat Krystal Bintang.

Mendengar pertanyaan tersebut, Red mengulurkan tangannya. Ukiran nama yang bertuliskan ‘Airen Delavina’, kini tampak jelas melingkar pada pergelangan tangan. Tanda jika aura Golden Clan telah mencapai titik tertinggi. “Besok malam, tepatnya saat bulan purnama.”

“Indigo, lebih baik kau tidak ikut.” Yellow memandang khawatir kondisi Indigo yang masih lemas. Wajah kesatria pemilik kekuatan pengendali pikiran masih sangat pucat.

Berdiri, Indigo mengulurkan tangannya. Menunjukkan jika simbolnya sudah kembali seperti sedia kala. “Jangan menghalangiku. Aku sudah cukup kuat untuk berperang.”

“Biarkan Indigo ikut serta.” Semua menolehkan kepala pada Red yang tiba-tiba saja menarik tangan Indigo dan menyalurkan cahata berwarna emas. Cahaya redup yang berpendar terserap ke kulit Indigo, membuat simbol naga itu juga memendarkan cahaya.

“Aku tidak bisa mendampingi kalian.” Ucapan dari Pangeran Aiden membuat semuanya termangu.

“Kenapa Pangeran Aiden tidak bisa ikut?” Purple bertanya. Padahal sejak mengetahui jika misi yang sebenarnya telah menanti, ia sudah membayangkan bisa beraksi dengan sang Pangeran.

“Ada hal lain yang harus aku selesaikan.” Jawab Aiden dengan tenang. Ia melipat kertas berisi ramalan Destiny Book, meremas kertas itu dengan kuat.

Serbuk kertas keluar dari sela jari-jari tangan sang Pangeran yang terkepal. Bukti ramalan Destiny Book telah dihancurkan untuk menghilangkan jejak.

“Jangan mencoba membaca pikiranku Airen.” Celetuk sang Pangeran yang sontak saja membuat keenam Rainbow Knights lain lansung begidik ngeri.

“Katakan yang sejujurnya!” Red melangkah mendekati Pangeran Aiden, menatap lekat manik sang Pangeran dengan tatapan tajam yang penuntut penjelasan.

“Aku harus mencari keberadaan Marcus. Ketika kalian berangkat, keberadaan Marcus akan tampak jelas mengikuti pergerakan kalian. Aku akan menghalanginya untuk mencapai lokasi sambil menghapus jejak aura milik kalian.” Pernyataan tersebut membuat semua Rainbow Knights mengangguk faham.

Tangan Pangeran Aiden terangkat, mengusap puncak kepala adiknya dengan pelan. “Airen, ulang tahunmu memang telah berlalu. Tapi Immortal Diamond itu tetap menjadi incaran Marcus. Jika Cahaya Utama tewas, maka enam cahaya lain akan meredup.”

Red mengangguk, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang tulus. Ia mengerti jika sang Pangeran pastilah mengkhawatirkan keselamatannya.

“Kalian harus saling melindungi. Green, kau adalah healer. Tugasmu sangat berperan penting ketika pertempuran berlangsung.” Atensi Pangeran Aiden beralih menatap Green.

“Saya mengerti Pangeran Aiden.” Green mengangguk, menunjukkan kesediannya untuk menjadi healer bagi rekan-rekannya.

Mata sang Pangeran terpejam beberapa detik, ia kembali menghadap pada Red dengan manik mata yang sudah berkilat. “Airen Delavina. Penuhi takdirmu, kalahkan musuh kita, waspadalah, dan jangan mati. Ini adalah titah tak terbantahkan dari Pangeran Asterium.”

Titah, sebuah perintah dari Golden Clan bersifat memaksa. Pewaris tahta ketiga telah mendapatkan titah dari pewaris tahta kedua.

Aiden Derstonift dan Airen Delavina, dua penerus Kerajaan Asterium yang masing-masing membawa peranan penting dalam misi ini.

.
.
.
.
.

Tring

Tring

Tring

Dentingan pedang yang beradu terdengar, hutan belantara yang awalnya tenang berubah menjadi tempat pertempuran.

Sulur-sulur pohon bergerak menjerat, jutaan laba-laba menembakkan jaringnya, dan prajurit bayangan yang menyerang para Rainbow Knight.

“Red, masuk ke dalam gua! Cepat!” Green berteriak, ia sedang sibuk meloncati sulur-sulur yang bergerak mendekatinya.

Red bingung, keenam temannya sibuk melawan makhluk aneh dan sulur-sulur tanaman yang seakan tidak ada habisnya. “Tapi…”

“Biar kami yang menghadapinya, kau harus masuk dalam gua itu!” Kali ini Orange yang berteriak, tangannya bergerak menembakkan bola-bola api untuk menyerang laba-laba.

Manik mata Red bergerak gelisah, meninggalkan keenam temannya bukanlah ide yang bagus. Namun, mentari sudah menyingsing k arah barat, tanda jika waktu mereka tidaklah banyak. “Maaf… Aku tidak akan lama.” Sorot matanya tampak sendu, berada di tempat gelap seperti ini membuat kekuatan Rainbow Knights melemah, apalagi Indigo masih belum bisa menggunakan kekuatan maksimalnya.

Tap

Tap

Tap

Berlari, Red melompati bebatuan yang ada. Menebaskan pedangnya pada sulur yang bergerak menghalangi langkahnya.

“Gelap sekali…”

Lorong gua yang didatangi oleh Red sangat gelap. Tidak ada secercah cahaya yang berhasil ditangkap oleh netra merahnya.

Brak

“Sihir? Tempat ini disihir.” Iner Red ketika tubuhnya terpelanting ke belakang.

Red mendekati mulut gua itu, meraba dinding transparan yang menghalangi jalan masuknya.

Singgg

Penghalang itu menghilang, membuat Red bisa masuk. Ia melangkah dengan cepat memasuki gua, pandangannya mengedar menyusuri setiap lekuk gua.

“Siapa kau?” Sebuah suara mengalun dari bawah gua, tepat di bawah cekungan curam layaknya tebing.

“Aku Red, sang Cahaya Utama, pemimpin dari Rainbow Knights.” Red mengatakannya dengan lugas, netranya mengamati bagian bawah tebing itu, mencoba menerka makhluk seperti apa yang menantinya di bawah.

“Kau pasti ingin mengambil Krystal Bintang.” Suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada angkuh yang sangat kentara. Menurut perkiraan Red, suara itu seperti suara wanita.

“Ya, aku ingin mengambilnya.” Jawabnya dengan tegas.

Hening…

Sepertinya sosok itu sedang memikirkan sesuatu. “Bertarunglah denganku! Jika kau menang, kau bisa membawa Krystal Bintang.”

“Baiklah…” Red menarik sudut bibirnya, mengayunkan pedang lalu meledakkan sebuah bola cahaya putih ke arah langit-langit. Bola cahaya itu melebur dg serbuk putih yang berkilau, jatuh ke arah bawah.

Senyuman puas semakin tampak di bibir Red ketika ia melihat serbuk cahaya mulai menyentuh dasar tebing gua.

“Apa taruhan yang kau tawarkan jika aku yang menang?” Sosok tersebut sepertinya ingin memperoleh sesuatu yang juga berharga.

Red mengangkat tangan kanannya, simbol naganya berpendar. “Jiwaku, kau bisa mendapatkannya.”

“Aku setuju.” Sosok itu tampak senang.

Red menarik nafas, mencondongkan tubuhnya ke depan lalu terjun bebas ke bawah. Inilah takdirnya, mengambil krystal bintang yang harus di bawa ke Asterium.

Ketakutan terbesarnya saat ini adalah bagaimana ia tidak membentur batuan runcing yang pastinya ada di dasar sana. Sayap, Red tidak memiliki sayap. Ia hanya mampu berharap bisa mendarat dengan baik.

To be continue…

 

MY SECRET OF IDENTITY (CHAPTER 1)

Tittle: My Secret of Identity

Writers: @atika_s27 / Krystalaster27

Cast:
Cho Kyuhyun (marga berubah menjadi Kim) a.k.a Marcus Kim
Kim Kibum
Kim Heechul
Kim Jongwoon
Lee Donghae a.k.a Aiden Lee
Park Jungsoo a.k.a Denis Park

Genre: family, brothership, sad, & action.

Summary: Kim Kyuhyun adalah adik kandung Kibum dan Heechul yang diasuh terpisah dari mereka sejak bayi, tumbuh dengan baik di negara yang berbeda. Tapi suatu hal yang rumit mulai menerjang kehidupan Kim Kyuhyun, sehingga dengan terpaksa ia memutuskan untuk kembali pada keluarga kandungnya di Seoul – Korea Selatan. Kibum serta Heechul yang bersikap dingin, acuh, dan cuek padanya, semakin membuat posisi Kyuhyun serba salah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun, sehingga membuatnya rela pulang ke Korea?.

.
.
.
.
.

Chapter 1

Malam yang seharusnya dinikmati dengan bersantai kini berubah menjadi menegangkan. Sebuah peristiwa tidak lazim tengah terjadi di mansion mewah yang terletak di dekat pusat keramain negara tanpa tidur, ‘Amerika’ begitulah orang mengenali negara itu.

Dua orang manusia berbeda usia sedang berargument dalam sebuah ruangan, mereka mengenakan pakaian yang nyaris persis seperti agen FBI. Salah satu dari mereka tampak membawa pistol di tangan kanan, ekspresi gusar dan panik terlihat jelas diwajahnya.

“Pergilah Marcus, Selamatkan dirimu! Tinggalkan daddy sendiri!” Perintah itu diucapkan dengan keras, sedikit membentak karena rasa khawatir yang mendominasi.

“Tidak! Aku ingin tetap berada disini! Akan aku lawan mereka jika perlu, daddy tidak perlu cemas!” Gelengan penolakan dari Marcus yang ternyata tengah berargument dengan ayahnya. Sepasang obsidiannya terus melirik ke arah layar tv yang sedang memperlihatkan rekaman cctv, beberapa orang mulai mengepung rumah mereka dengan kostum yang serupa.

Petaka telah tiba, kejadian yang mereka prediksi terjadi lebih cepat, padahal mereka belum sempat membereskan apapun untuk menghilangkan jejak serta menyelamatkan diri.

“Seribu nyawapun tidak akan sebanding dengan dirimu Marcus. Jika kau ditangkap, sama saja kita menenggelamkan dunia dalam kehancuran!” Sang ayah tetap bersikeras menyuruh putranya ‘Marcus’ untuk segera pergi.

Ucapannya memang tidak berlebihan, Marcus adalah kunci dari semua kekacauan yang akan terjadi di masa depan.

“Tapi…” Terjadi pergolakan batin, Marcus bingung memilih untuk pergi atau tetap bertahan dan menyerang pasukan agen yang mengepung rumahnya.

Tatapan dari sang ayah berubah menjadi sendu. “Pergilah… Temui appa dan hyungdeulmu! Aku sudah mengubah identitasmu sepenuhnya dengan nama korea. Kim Kyuhyun, daddy mohon sekali ini saja, Selamatkan nyawamu!” Kali ini, pria yang dipanggil Kyuhyun (Marcus) dengan sebutan ‘daddy’ itu mulai mencengkram lengannya, membawa Kyuhyun berlari menuju sebuah koridor dari rumah mewah yang mereka huni.
Waktu semakin menipis, mereka harus segera bergerak jika tidak ingin tertangkap hidup-hidup.

BRAKK!!!

Duar!

Duar!

Duar!

Suara gebrakan pintu yang terdengar jelas karena dobrakan, tembakan beruntun saling bersautan setelahnya.  Membuat pria itu panik, sehingga ia mendorong tubuh Marcus memasuki sebuah ruangan yang memiliki 3 pintu penghubung menuju ruangan yang lain.

“Go Marcus! Out from here!” Teriakannya menggema di dalam ruangan kedap suara itu. Menyuruh satu orang untuk pergi saja sangat susah, inilah akibatnya jika rasa sayang terlalu kuat. Dalam keadaan genting sekalipun, rasa sayang akan menguasai jiwa dan membuat orang menjadi bodoh.

“No dad!” Tetap pada pendiriannya, Kyuhyun menolak untuk pergi.

Pria itu menghela nafas, ia memegang kedua bahu Kyuhyun dan menatapnya dengan penuh permohonan. “Please, jika kau ingin aku tetap hidup, maka pergilah dan temui keluargamu. Aiden yang akan menolongku disini untuk melawan mereka, jadi kau tak perlu khawatir!”

Sepasang onix dari sang anak menatap daddy-nya dengan sendu, ia ingin tinggal tetapi kenapa rasanya sangat sulit. Apakah ia harus meninggalkan daddy-nya sendiri di saat pengepungan ini, nalar bahkan hatinya menolak dengan tegas.
“Baiklah dad, a-aku akan pergi. Berjanjilah daddy akan selalu hidup dan menunggu diriku kembali!”  Sepasang lengan itu memeluk sekilas tubuh daddy-nya, dengan berat hati Kyuhyun melangkah mundur dan memasuki salah satu dari ketiga pintu yang tersisa.

Tukk

Remaja itu menghentikan langkah, menolehkan kepala untuk memandang daddy-nya, merekam siluet tubuh itu dalam memori sebelum kakinya pergi menjauh.
Sekarang pria itu sedang menunduk, tangannya tampak cekatan memasukkan tujuh butir peluru kedalam pistol. Pria itu mendongak, tersentak kaget saat melihat Kyuhyun masih berada di ambang pintu.
“Tak ada waktu lagi. Sekarang pergilah! Mereka sudah memasuki ruang tengah. Bawa mobil milik daddy lalu kaburlah lewat jalan belakang.”

Mengangguk, remaja itu membungkukkan badan lalu mulai berbalik pergi. Pria itu juga mulai keluar dari ruangan dan berlari menuju ruang tengah untuk melawan para agen. Mereka mengambil jala yang berlawanan arah, semuanya hanya untuk satu tujuan yakni perperangan di masa depan.

‘Pergilah Marcus Kim! Temui keluargamu dan hiduplah bahagia dengan mereka, aku akan selalu menyayagimu. Kim Kyuhyun, putra asuhku.’ Suara hati itu terucap, salam perpisahan yang seharusnya tadi diungkapkan.

Disisi lain, Kyuhyun sudah memasuki sebuah mobil audy berwarna hitam milik daddynya, awalnya ia terperangah melihat koper dan beberapa map yang tertumpuk rapi di kursi penumpang depan. ‘Dad, kau sungguh keterlaluan. Bagaimana mungkin daddy menyiapkan seluruh pakaian, barang, beserta dokumen milikku tanpa sepengetahuanku.’

Ia segera menghidupkan mobil dan mulai melajukannya melewati
sebuah lorong bawah tanah, lorong gelap yang menghubungkan tempat parkir dengan halaman belakang. Menekan gas mobil dengan kuat saat kedua obsidiannya melihat seseorang berseragam sedang menghalangi jalannya, seakan tak perduli jika orang itu tertabrak.

Satu

Dua

Tiga

Dihitungan ketiga, sesuai perkiraan… Orang itu segera menghindar saat mobil yang dikendarai-nya mulai mengikis jarak diantara mereka. ‘Bagus, biarkan aku pergi. Aku akan menghadapi kalian jika waktunya sudah tepat.’ Alat transportasi seharga jutaan dolar itu melaju dengan cepat, membelah jalanan padat Amerika yang tiada pernah sepi.
Kyuhyun mengemudikan mobilnya melewati jalur yang cukup acak, setidaknya ia harus memastikan bahwa tak ada agen yang membuntutinya. Ia harus menuju bandara lalu mengikuti jadwal penerbangan malam ini, mengamankan diri untuk menyambut perperangan nanti.

.
.
.
.
.

Pagi hari yang cukup cerah, seorang remaja tengah melangkahkan kakinya keluar dari pintu kedatangan di sebuah bandara udara Korea Selatan, wajahnya yang tampan membuatnya menjadi pusat perhatian, beberapa orang bahkan mengeluarkan ponsel demi mengambil fotonya diam-diam.

Remaja dengan penampilan casual yang membalut tubuh tinggi tegapnya, rambutnya berwarna kecoklatan dengan tatanan sedikit acak. Sosok yang tak lain adalah ‘Kim Kyuhyun’ itu sedang menggeret koper, sebelah tangannya yang lain mendekap erat beberapa map agar tidak terjatuh.

Langkah kaki itu berhenti sejenak, Kyuhyun melepaskan kopernya untuk meraih handphone di saku celana. Kepalanya mengangguk saat membaca pesan singkat daddynya, pesan itu berisi alamat keluarganya di negara ini. Setelah mengingat alamat itu, ia memasukkan lagi handphonenya, menarik nafas dalam sembari memejamkan mata sesaat untuk menikmati kesan kepulangan pertamanya.

“Hah, ternyata udara di Korea Selatan sangat sejuk.” Lehernya digerakkan ke kanan dan ke kiri sedikit merenggangkan bagian yang kaku, perjalanan dari Amerika menuju Korea Selatan nyatanya sangat menguras tenaganya. Oh, belum lagi aksi melarikan diri yang ia lakukan kemarin, tubuhnya terasa lelah. Seulas senyuman terbit di bibirnya, menjadikan wajahnya berkali lipat lebih tampan.

Udara Korea Selatan sangat berbeda dengan Amerika, di sana terlalu banyak polusi dan minim pepohonan. Asap kendaraan maupun industri memenuhi atmosfir, udara di sana sedikit buruk untuk bernafas.

‘Daddy, aku sudah tiba di Korea. Apa daddy baik-baik saja disana?’ Bagaimanapun juga, Kyuhyun tetaplah tidak berhenti memikirkan keadaan ayah yang selama ini mengasuhnya. Seorang ayah yang memberinya kasih sayang dengan penuh.

Tak ingin berlama-lama disana, ia mulai melanjutkan langkah kakinya yang tadi sempat terhenti.
“Jongwoon appa, Heechul hyung, dan Kibum hyung. Aku pulang!” Seruan riang terlontar cukup nyaring, dengan langkah pasti ia mulai menghampiri sebuah taxi yang ada di depan bandara.

Tak bisa dipungkiri, hatinya merasa senang karena akhirnya bisa bertemu keluarga kandungnya setelah 16 tahun tinggal bersama ayah asuhnya. Keluarga yang bahkan tak pernah sekalipun menyapa dirinya.

.
.
.
.
.

Tap

Tap

Tap

Seorang remaja mengedarkan pandangan saat memasuki sebuah mansion mewah yang diyakininya sebagai rumah appa serta kedua hyungnya, perabotan rumah itu cukup mewah dengan desain interior minimalis modern. Menggambarkan jika penghuni rumah ini bukanlah maniak barang antik seperti kebanyakan orang kaya.

Tadinya ia sempat ragu saat bertanya kepada satpam yang berjaga didepan, tapi semua itu terjawab saat ia menyebutkan nama, buktinya ia langsung dipersilahkan masuk saat itu juga. ‘Sepertinya daddy sudah menceritakan kedatanganku pada appa, sehingga satpam saja mengetahui statusku.’ Hal itulah yang dapat disimpulkan oleh Kyuhyun.

Tubuhnya terasa lemas, ia melewatkan makan siangnya karena sedari tadi pagi memilih untuk mampir ke Bank, menukar uangnya yang masih berupa dolar juga membuat rekening tabungan baru atas nama Kim Kyuhyun. Well, ia bahkan masih ingat tatapan heran dari penjaga bank ketika dirinya menyerahkan satu tas penuh uang. Daddy-nya sungguh berbaik hati mengisi koper dengan banyak dolar yang ditumpuk rapi dalam tas, untung saja ia sempat mengintip isi koper. Kalau tidak, bisa dipastikan ia sudah kecopetan karena lalai menjaga kopernya.

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

Kyuhyun menolehkan kepala secara cepat tatkala pendengarannya menangkap langkah kaki yang mendekat.

Satu

Dua

Tiga

‘Ada tiga orang yang sedang berjalan mendekat’

Benar… Dugaannya tidak pernah salah, di ujung koridor ia bisa melihat tiga orang yang sedang berjalan menghampiri, dua diantara mereka masih sangat muda. Dan tebakan Kyuhyun mereka adalah kedua kakaknya.

Hal yang dipelajari Kyuhyun dimulai saat ini, sesuai tata krama ia membungkukkan badan saat seorang pria yang terlihat paling tua diantara mereka sudah berdiri tak jauh darinya. Di Amerika jarang sekali Kyuhyun membungkukkan badan, semua itu pengaruh dari lingkungan. Saat berusia sepuluh tahun, ia pernah membungkuk pada guru namun yang didapati adalah guru itu menyebutnya aneh.

“A-appa?” Lidah itu bahkan terasa kaku saat berbicara dengan bahasa Korea, aksen Inggrisnya masih sangat sulit dihilangkan. Sepertinya kursus bahasa Korea yang diberikan daddy-nya tidak membuahkan hasil yang bagus, padahal ia 100% keturunan Korea.

“Aigoo!!! Kim Kyuhyun… Putraku sudah besar rupaya.” Remaja itu cukup terkejut saat tubuh pria paruh baya menerjangnya, memeluknya erat dengan sebelah tangan yang mengusap punggungnya.

Ia terpaku beberapa saat, merasa canggung dan bingung di saat bersamaan. Skinship pertama dengan ayah kandung ternyata membuatnya gugup.

“Cihh, sok manis!” Decihan sinis itu membuat pelukan Jongwoon terlepas, Kyuhyun bisa melihat appanya yang menoleh dengan pandangan terkejut pada namja yang berdecih tadi. Namja tampan yang menurut Kyuhyun mempunyai wajah cukup cantik, tengah melipat kedua tangan di depan dada dengan ekspresi sinisnya.

“Heechul, jaga sikapmu! Bagaimanapun Kyuhyun adalah dongsaeng kandungmu.” Jongwoon menegur putra sulungnya dengan nada datar yang sarat peringatan tegas.

Kyuhyun bisa melihat kilatan marah dikedua mata namja cantik yang ternyata adalah ‘Heechul’ hyung tertua-nya.
‘Ia membenciku.’ Kesimpulan itulah yang didapatkannya saat mendefinisikan perilaku kakak tertuanya. Apalagi sekarang Heechul hyung-nya memilih melenggang pergi, berjalan menaiki tangga lalu memasuki sebuah kamar setelah menutup pintunya dengan keras.

Brakk

Suara debuman itu terdengar hingga lantai bawah, menggetarkan hati Kyuhyun yang merasa ditolak.

“Mianhae, Heechul memang seperti itu jika sedang kesal.” Jongwoon menatap Kyuhyun penuh penyesalan, ia merasa gagal mendidik Heechul karena tempramennya yang sulit dikendalikan.

“Gwenchana ap-appa.” Hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Kyuhyun, ia berusaha mengerti posisinya sebagai orang baru di rumah ini. Kedatangannya mungkin sedikit tidak tepat sehingga Heechul bersikap sinis seperti tadi.

“Hahhh… Baiklah kalau begitu.” Helaan nafas pasrah terdengar, Jongwoon sadar kelakuan Heechul memang terkadang kelewatan jika sedang marah.

Hening melingkupi suasana ruang tamu untuk beberapa saat, membiarkan kedua manusia yang masih berdiri berdekatan itu saling berpikir, hingga sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya.

“Appa, aku ada jadwal les sekarang.” Seorang namja lain yang lebih muda yang tadinya hanya bersedekap dan menatap datar setiap adegan pelepas rindu, berjalan melewati Jongwoon dan Kyuhyun.

“Kibum, setidaknya ucapkan selamat datang pada dongsaengmu.” Teguran itu menghentikan langkah Kibum.

“Eo, selamat datang.” Kibum berucap dengan datar, tanpa membalikkan badan maupun bersalaman. Kyuhyun tanpa sadar mendesah kecil saat punggung ‘Kibum hyung-nya’ mulai menghilang, remaja itu sudah pergi melewati pintu utama yang ia lewati tadi.

Sebagai seorang ayah ia tak menyangka jika kedua putranya tak bisa menunjukkan sikap ramah-tamah yang selama ini sudah dilatih. Keluarga Kim dikenal dengan sikap disiplin, kemandirian, serta keramahannya. Tapi kedua putranya malah menampilkan sikap yang sebaliknya.

“Aigoo… Kyuhyun-ah mianhe! Hyungdeulmu mungkin sedang lelah, jadi mereka bersikap begitu.” Jujur saja, Jongwoon juga terkejut melihat perilaku Kibum yang biasanya menjunjung tinggi norma kesopanan.

“Gwencana appa.” Hanya seulas senyum tipis yang dapat Kyuhyun berikan, ia memang kecewa dan sedikit sakit hati, penyambutan yang diharapkannya sama sekali meleset dari perkiraan. Bagaimanapun pikirannya seperti seorang anak kebanyakan yang mengharap kehangatan sebagai sambutan selamat datang.

“Oh, sebaiknya sekarang kau beristirahat. Ayo, appa tunjukkan kamarmu!” Jongwoon menarik lengan Kyuhyun agar mengikuti langkahnya, mereka menaiki tangga lalu menuju sebuah kamar yang terletak paling ujung.

Tuan Kim membuka kamar itu, menggiring putra bungsungnya agar masuk ke dalamnya. Ruangan itu cukup besar dan menghadap ke arah halaman depan, pembatas balkon terlihat dengan jelas dari balik pintu kaca yang menjadi sekat antara kamar dengan balkon.

“Lihat, ini kamarmu Kyu! Appa sudah mendesainnya sejak bulan lalu, tepat satu hari setelah Denis menelfonku dan menyapaikan kabar bahwa kau segera pulang.” Tubuh Kyuhyun terpaku tatkala mendegar kalimat terakhir yang diucapkan appanya, ia semakin merasa sakit hati sekarang. ‘Ternyata daddy sudah mempersiapkan semuanya, pasti mereka sudah merencanakan penangkapanku sejak dulu.’

Atensi itu mengedarkan pandangan, menyapu setiap lekuk yang ada di ruangan itu, tak bisa dipungkiri bahwa desain interior kamar benar-benar sesuai dengan seleranya. Warna biru, putih, hitam, dan coklat dipadukan dengan pas. Ia juga bisa melihat seperangkat komputer keluaran terbaru, laptop, gadget, tv, vcd player,dan satu set peralatan game yang tertata rapi. Di dekat pintu kaca menuju balkon ada lemari yang berisi beberapa buku dan kaset games, lalu tempat tidur king size, sebuah kulkas kecil, dan meja nakas. Ada dua pintu di sudut kamar, Kyuhyun menebak jika itu adalah toilet dan satunya lagi tempat untuk menyimpan pakaiannya. Sebuah lemari belajar dengan beberapa buku, satu set alat tulis, juga tas sekolah yang tergantung. ‘Lengkap sekali’ itulah yang dipikirkannya.

“Kau suka?” Suara itu membuat Kyuhyun menolehkan kepala, ia mengangguk dan tersenyum cukup lebar. “Ne appa, ini lebih dari cukup dan sesuai dengan seleraku. Emm, gomawo.” Tak ada kata selain terima kasih, ia bingung ingin bicara apa lagi padahal saat bersama daddy-nya, ia tergolong cerewet.

“Baguslah kalau kau suka Kyu. Appa turun dulu eo, istirahatlah! Kau pasti lelah.” Kyuhyun tertegun saat jemari tuan Kim mengusap kepalanya, ia merasa nyaman sekaligus terlindungi disaat bersamaan, perasaan yang belum pernah didapatkannya dari sosok daddy (ayah asuhnya). Bagi Kyuhyun rasa ini berbeda, lebih kuat,  hangat, tenang, dan merasuk dalam hatinya.

Kim Jongwoon akhirnya pergi, meninggalkan Kyuhyun sendiri di kamar itu. Membiarkan putra bungsunya melepas penat setelah perjalanan jauh yang ditempuhnya.

Tuk

Sepatu itu terlepas dan tergeletak begitu saja di lantai, Kyuhyun merebahkan diri di atas ranjang lalu mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, dengkuran halus terdengar, rupanya remaja tampan itu sudah tertidur pulas.

Istirahat adalah cara terbaik untuk menghilangkan penat maupun menenangkan perasaan yang gundah. Bagi sebagian orang, istirahat merupakan cara terbaik untuk mengungsi sejenak dari problematika kehidupan, menghilangkan kegelisahan yang merasuki hati lalu mencari ketenangan dengan menjelajah mimpi.

.
.
.
.
.

Senja… Waktu di saat matahari mulai menghilang untuk berpindah posisi, menerangi bagian dari Planet Bumi yang lain. Semua itu untuk sebuah keseimbangan, agar setiap makhluk bisa merasakan kehangatan.

Tok

Tok

Tok

Suara ketukan pintu terdengar, mengalihkan perhatian seorang remaja yang sibuk dengan aktifitas kecilnya.

“Kyu?” Panggilan itu terdengar sayup-sayup mungkin karena terhalang oleh pintu kokoh bercat coklat.

“Ne appa. Sebentar!” Maknae keluarga Kim segera bangkit berdiri, menghampiri pintu untuk membukanya.

Cklek

Pintu terbuka, menampilkan wajah pria paruh baya yang mengerjap polos dengan bibir sedikit cemberut. Nampaknya Kyuhyun berhasil membuat appa-nya menunggu terlalu lama hingga menjadi kesal.
“Kamu sedang apa?” Jongwoon melongokkan kepala kedalam kamar, mengamati apapun yang bisa dijangkau penglihatannya.

Mengerti bahasa tubuh itu, Kyuhyun segera memiringkan badannya agar Jongwoon bisa lebih leluasa mengamati. “Kyu sedang membereskan koper.” Sejauh ini penilaian singkat menyimpulkan jika appa-nya adalah orangtua yang selalu memperhatikan anaknya.

“Oh, apa sudah selesai?” Jongwoon mengangguk, dari kejauhan dia memang melihat koper yang terbuka di dekat lemari belajar. Putra bungsunya hanya membawa sebuah koper besar, mungkin hanya memuat sedikit baju dan peralatan. Untung saja kemarin ia sudah berbelanja banyak stel baju, hanya berbekal ukuran dan warna favorit yang disebut Jungsoo padanya.

“Sudah.” Anggukan kecil itu masih tampak canggung.

“Kalau begitu, ayo bantu appa memasak.” Tuan Kim menarik tangan putra bungsunya tiba-tiba, Kyuhyun yang panik berusaha menutup pintu dengan tangannya yang lain.

Ketika mereka berdua sudah mencapai bagian tengah tangga, tiba-tiba obsidian milik remaja itu membulat. “Eh? Me-memasak?” Lontaran pertanyaan itu terucap begitu saja seolah memastikan kebenaran. Kyuhyun mengutuk dirinya yang tidak menyimak kata ‘memasak’, dia sangat payah dengan urusan dapur.

“Ne, kajja!” Dan hancurlah kau Kyuhyun! Seumur hidup tinggal di Amerika, ia tak pernah sekalipun memasak.

Daddynya selalu memasak seorang diri, jika sang ayah asuh sedang bekerja, ia biasa pergi ke restoran untuk makan dengan Aiden. Itu lebih praktis meskipun juga agak boros dan menjemuhkan, karena kebanyakan makanan Amerika adalah fast food yang nilai gizinya sangat rendah.

Hembusan nafas lega dilakukan Kyuhyun, ternyata tuan Kim Jongwoon hanya menyuruh menyiapkan bahan dan beberapa peralatan memasak, lalu ia disuruh duduk di kusi dengan lengan yang terlipat di atas meja makan. Sama persis seperti pose seorang balita yang duduk manis sembari menunggu masakan selesai.

Jongwoon berjalan mendekati meja makan, meletakkan satu hidangan yang sudah selesai. “Kyu, boleh appa tahu kau kelas berapa?” Pertanyaan yang sedari tadi memenuhi otak akhirnya terucap juga.

Remaja itu terdiam seolah tengah berpikir, Jongwoon menatap putranya dengan alis yang bertautan. Sempat terbesit dalam pikirannya, apakah putra bungsunya mungkin tidak naik kelas sehingga butuh waktu berpikir. Menjawab pertanyaan mudah seperti ini bahkan membutuhkan waktu beberapa menit, atau mungkin hitungan kelas di Amerika berbeda? Oh, itu tidak mungkin…

Si bungsu mengangkat ketiga jarinya,  tersenyum tipis pada appa yang sudah menantikan jawaban. “Emm… Kelas tiga Senior High.” Jawaban itu membuat tuan Kim terperangah, mata sipitnya mengerjap beberapa kali seolah meyakinkan pendengarannya tidak keliru.

“Wahh! Ternyata kau berada di tingkat yang sama dengan Kibum. Appa kira kau ada di kelas satu Senior High, kan usia kalian terpaut satu tahun setengah.” Putra bungsunya pasti sangat hebat, hingga Jungsoo  memasukkannya di kelas akselerasi. Ternyata kejeniusan mendiang istrinya juga menurun pada Kim Kyuhyun.

“Eh?” Kali ini si bungsu yang terkejut, ia benar-benar tak menyangka bisa setingkat dengan Kibum. Setelah ini ia pasti mendapat sebuah kejutan, entahlah otaknya tidak mau menduga.

“Kalau begitu, appa akan mendaftarkamu ke sekolah besok.” Jongwoon tersenyum, ia memandang  dengan sorot kebahagiaan. Ini kewajiban pertamanya, mendaftarkan Kyuhyun ke sekolah untuk melanjutkan study.

Kyuhyun membalas senyuman itu dengan tulus. “Emm… Ne appa. Gomawo.”

“Ayo bantu appa menata ini! Sebentar lagi hyungdeulmu pulang.” Jongwoon menunjuk beberapa mangkuk dan piring saji yang sudah berjajar di samping kompor, Kyuhyun mengangguk lalu segera beranjak untuk membantu appanya.

‘Hyungdeul pulang’, hanya dengan mendengar dua kata tersebut sebuah kesimpulan bisa diambil. Sang hyung tertua pasti keluar dari rumah setelah hyung kedua.

15 menit kemudian…

Hidangan sudah tertata rapi di atas meja makan, kursi yang sedari dulu kosong kini menjadi tempat milik Kyuhyun.
“Kami pulang!” Maknae Kim bisa mengenali suara kedua kakaknya yang menggema, tak lama kemudian mereka sudah memasuki ruang makan.

“Ah, ayo makan.” Sang kepala keluarga menyambut kedua putranya dengan senyuman, menarik kursi lalu duduk di sana dengan nyaman.

Heechul dan Kibum mencuci tangan mereka terlebih dahulu di washtafel, setelah itu menghampiri meja makan untuk begabung menyantap hidangan yang ada. Kebiasaan yang baik, Kyuhyun bahkan melihat step by step gerakan tangan kedua hyung-nya.

Mereka menyantap makanan dalam diam tanpa berniat menyisipkan obrolan, membiarkan dentingan sendok yang mendominasi, menjadi melodi pemecah kesunyian.

Saat acara makan malam hampir selesai, Jongwoon tiba-tiba mengucapakan sesuatu. “Kibum, besok kau tidak perlu bawa mobil ke sekolah.”

Yang disebut tentu saja terkejut, Kibum menelan suapan terakhirnya dan menengguk segelas air putih. Setelah itu ia mendongak dan meminta penjelasan pada appanya, tentang kenapa ia tidak diperkanankan membawa mobil.
“Mwo? Memangnya ada apa?”

“Besok kita bertiga berangkat bersama.” Jawaban santai tersebut menimbulkan spekulasi yang berbeda untuk tiga penghuni meja makan.

Si sulung yang mendengar kata ‘bertiga’ langsung menyahuti. “Appa, kuliahku baru masuk siang.” Menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menggeleng keras tanda ketidak setujuannya. Memang sih sudah lama mereka tidak berangkat bertiga, tapi kalau jadwalnya tidak sinkron tetap saja ia enggan. Ia bisa mati bosan karena terlalu lama menunggu di kampus.

Kepala keluarga Kim menggeleng, rupanya putra sulungnya salah pengertian dengan maksud ‘bertiga’ yang diucapkannya tadi. “Appa tidak mengajakmu Heechul, tapi besok appa ingin mendaftarkan Kyuhyun di sekolahnya Kibum.” Masih berkata dengan santai, Jongwoon melirik ke arah Kyuhyun yang menunduk diam sambil terus menyuapkan makanannya.

“Mwo?!!!” Heechul dan Kibum berseru bersamaan dengan mata yang terbelalak.

Ekspresi tidak terima itu terlihat dari anak kedua. “Kenapa harus di sekolahku?” Protesan itu sungguh menyayat hati, Kyuhyun merasa sangat dibenci juga tak diharapkan oleh kedua hyungnya. Apakah dirinya sehina itu, hingga sekolah di tempat yang sama saja ditolak.

Helaan nafas meluncur sebelum sang kepala keluarga menjawab pertanyaannya. “Kibum-ah, appa tidak mungkin mendaftarkan Kyuhyun di sekolah lain. Ia baru datang dari Amerika, jadi appa pikir tidak ada salahnya menyekolahkan Kyuhyun di tempatmu.” Jongwoon berusaha bersabar, ia sadar jika kedua putranya masih tidak menerima keberadaan maknae Kim.

Ia pikir… Putra bungsunya masih kesulitan memakai bahasa korea, logat inggrisnya masih sangat kental dan itu tidak cocok dengan logat Korea. Penyesuaian masih harus dilakukan oleh Kyuhyun, sedangkan sekolah internasional yang terdekat hanya ada di tempat Kibum.

“Terserah appa saja. Permisi, aku ada PR yang harus dikerjakan.” Dengan kesal Kibum meletakkan sumpitnya cukup keras, ia beranjak lalu mulai meninggalkan ruang makan.

Bagi Kibum, menenangkan diri adalah jalan terbaik untuk saat ini. Ia tidak ingin lepas kendali lalu menonjok wajah anak Amerika itu.

Tatapan muak di berikan Heechul pada Kyuhyun yang menundukkan kepala. “Appa menyakiti Kibum! Seharusnya biarkan saja anak itu bersekolah di tempat lain, Seoul masih punya puluhan Senior High yang bersedia menampungnya.” Si sulung berkata sangat ketus, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh sedangkan matanya menatap tajam pada remaja yang menundukkan kepala.

“Heechul, jaga ucapanmu!!!” Jongwoon tanpa sadar membentak putra sulungnya, ia tak habis pikir Heechul bisa bersikap sesinis itu secara terang-terangan.

Taakk

Si sulung bangkit berdiri, dihentakkannya sumpit dengan keras. Rahang itu mengeras menjelaskan bahwa ia tengah memendam emosi yang besar. “Aku sudah kenyang… Maaf, aku harus mengerjakan proposal sekarang.”

Jongwoon tau jika Heechul hanya berdalih, ia paham dengan sikap putra sulungnya yang kelewat ajaib itu. Keduanya marah dan secara terang-terangan menolak kehadiran Kyuhyun di mansion ini.

“Aish… mereka benar-benar keterlaluan!” Akhirnya ia hanya menggerutu. Menasehati akan percuma jika kondisinya seperti ini, kedua putranya lebih keras kepala jika sudah diselubungi emosi.

“Appa…” Suara lirih itu mengalihkan fokusnya, ia menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah menatapnya dengan sedikit takut.

Tersenyum tipis adalah hal yang selalu dilakukannya, ia harus mengendalikan diri agar Kyuhyuh tetap merasa diperdulikan. “Waeyo Kyu?”

Kepala itu menunduk lagi, menatap sepasang tangannya sendiri yang saling meremas untuk menghilangkan rasa gugup. “Apa Kyu mengganggu? Jika hyungdeul tidak suka, biar Kyu pindah saja dari sini dan menyewa apartemen.”

Oh, tidak cukupkah Kim Jongwoon mendapatkan banyak kejutan hari ini? Sekarang putra bungsunya bahkan berniat pergi, padahal belum genap sehari ia tinggal disini. Atmosfir mansion Kim memang terasa panas hari ini, jika boleh jujur… Ia bahkan merasa gerah dan berniat pergi ke tempat kerja untuk mendinginkan kepala. Bertemu ratusan orang yang hilir mudik terasa lebih baik jika keadaannya seperti sekarang.

Tuan Kim mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap surai kecoklatan yang lembut itu, setidaknya ia bisa menunjukkan jika Kyuhyun tak perlu bersedih dan merasa terkucilkan. Meskipun itu benar, tetapi masih ada ia sebagai seorang ayah yang akan selalu berdiri dan mendukung Kyuhyun dari belakang. Memastikan ketiga putranya hidup dengan rukun dan saling menyayangi.

“Kyu, dengarkan appa. Percayalah jika hyungdeulmu sangat menyayangimu! Mereka bersikap dingin mungkin karena sedari bayi kau tinggal terpisah dari kami, jadi butuh beberapa penyesuaian terhadap kehadiranmu. Appa tidak akan membiarkanmu pergi lalu tinggal di apartemen, bagaimanapun appa juga ingin merawatmu Kyu. Jungsoo sudah berbaik hati merawatmu selama 16 tahun, jadi maukah kau membantu appa melepaskan beban ini?. Appa ingin menepati janji pada ummamu agar selalu menjaga serta melindungimu, tidakkah kau juga ingin tinggal dengan appa?” Mencoba membuat mengertian pada Kyuhyun, ia memang sadar jika kedua putranya membenci si bungsu bahkan sejak bayi. Tapi Jongwoon tidak ingin membiarkan kedua putranya larut dalam kebencian, ia ingin mereka kembali menyayangi Kyuhyun seperti dulu saat istrinya belum meninggal.

“Ne appa, mianhae.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya, ia sadar sudah berpikir dangkal nyaris membuat ayah kandungnya sakit hati.

“Gwencaha, tidurlah Kyu! Besok kita harus berangkat lebih pagi.” Kim Jongwoon beralih mengusap bahu Kyuhyun, ia merasa lega karena putra bungsunya mau mengerti perkataannya.

“Ne, jaljayo appa” Kyuhyun bangkit, membungkuk sekilas lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Bersiap untuk menyambut hari esok yang entah bagaimana wujudnya.

Tinggal sang kepala keluarga sendiri, Jongwoon menghela nafas berat, sekarang ia punya misi baru untuk mengakrabkan ketiga putranya.
Dengan perlahan ia bangkit berdiri untuk membereskan meja makan, desisan kecil itu lolos saat tangan kanannya mengangangkat piring Kibum yang masih menyisakan seperempat makanan.

Selama ini Kibum tak pernah menyisakan makanan, betapa teledornya ia mengajak Kibum berbicara hal sensitif seperti tadi. Sudah jelas jika Kim Kibum akan menghentikan acara menyantapnya hanya untuk menanggapi lawan bicaranya.

.
.
.
.
.

Semburat merah di bagian timur mulai terlihat, kicau burung juga terdengar sayup-sayup, tetesan embun sudah membasahi dedaunan yang nampak segar. Pagi hari yang cukup cerah untuk mengawali aktifitas bagi jutaan warga Seoul-Korea Selatan.

Di sebuah ruangan bernuansa biru, seorang remaja tengah mencengkram piama di bagian dada dengan kuat, peluh bahkan sudah membanjiri tubuhnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meringkuk di atas ranjang sembari menahan seluruh rasa sakit.

“Akkh… s-sial! Ke-kenapa harus di saat seperti ini? Akkh…” Remaja yang tak lain adalah Kyuhyun mulai menggerutu saat menyadari bahwa jam dindingnya menunjuk angka 5 pagi. Padahal satu jam lagi ia sudah harus berangkat ke sekolah, berangkat lebih pagi dari ketentuan yang seharusnya untuk mendaftarkan dirinya sebagai siswa di sekolah yang sama dengan Kibum.

Tok

Tok

Tok

Ketukan pintu itu menarik perhatian Kyuhyun, ia lupa jika appa-nya selalu mengetuk satu-persatu kamar untuk membangunkan maupun memanggil.
“Kyu, apa kau sudah bangun?” Suara itu membuat Kyuhyun panik, dengan susah payah ia beringsut bangun lalu menyandarkan tubuhnya di dashboar ranjang.

‘Appa? Aigoo… aku harus bagaimana ini?’ Cengkraman itu semakin mengerat di dadanya, ia merasakan nafasnya menderu cepat dan putus-putus seiring dengan ritme yang tak beraturan.

“Ne ap-appa!” Dengan susah payah Kyuhyun menjawab, lehernya terasa seperti dicekik oleh tali kasat mata. Pasokan udara  di selitarnya terasa menipis padahal tidak ada yang aneh dengan udara yang memenuhi ruang kamar.

“Eo, cepatlah turun. Sarapan sudah siap.” Sekali lagi suara Kim Jongwoon terdengar. Setelah itu langkah kaki terdengar menjauh, mungkin tuan Kim beralih untuk membangunkan Kim Kibum yang memang memiliki kamar di sebelah kamar Kyuhyun.

Kyuhyun bersyukur appanya tidak meberobos masuk hanya untuk membangunkannya. Dengan hati-hati ia mulai menurunkan kakinya, tapi ketika sepasang tumitnya baru menginjak lantai seluruh tenaganya seolah menguap.

Brukk

Tubuh remaja berkulit pucat itu jatuh terduduk, dengan susah payah Kyuhyun merangkak menghampiri lemari belajar, membuka satu-persatu laci yang ada di sana.

“Akkh… o-obatku dimana? Akkh…” Rintihan itu meluncur saat rasa sakit kembali menghantamnya lebih kuat. Kyuhyun menyandarkan tubuh tegapnya, ia bisa merasakan nafasnya semakin berat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meraih botol kecil yang ada di laci paling atas.

Tangannya membuka botol obat itu dengan gemetar untuk mengambil sebutir obat, setelah itu tangan kirinya beralih meraih botol air mineral yang ada di atas meja. Sekali tenggukan, obat itu sudah memasuki saluran pencernaan.

“Hahhh, hahhh, hahhh.” Nafas Kyuhyun masih tersengal, penyakit jantungnya selalu terasa mencekik hinga ia kesulitan bernafas. Sepasang obsidian itu terpejam menunggu obat tadi bereaksi, ia harus tenang agar rasa nyeri yang sedikit menyesakkan itu tak semakin menyakitkan.

Lima menit kemudian Kyuhyun berdiri, kedua tangannya bertumpu pada dinding yang kokoh, dengan lemas memaksakan menyeret kakinya perlahan menuju toilet. Ia tidak ingin membuat semua curiga karena ketelatannya bergabung di meja makan.

Biarlah penyakit ini menjadi rahasianya untuk sementara waktu, tak boleh ada seorangpun yang mengetahui penyakitnya kecuali daddy dan Aiden ‘keluarga yang mengasuhnya’. Kyuhyun tak punya alasan kuat untuk membeberkan perihal kondisinya, kedua kakaknya masih bersikap sedingin es dan ia cukup lemah untuk sekedar mencairkan. Biarlah seperti ini, ia akan tetap menjalani rutinitas tanpa mengharapkan secuil perhatian hyungdeulnya.

.
.
.
.
.

Koridor itu nampak sepi karena letaknya yang tersembunyi di dekat gudang bagian belakang sekolah. Dua orang siswa dengan setelan seragam nampak berdiri berhadapan.

Brugg

“Akkh…”
Ringisan itu meluncur saat punggung  siswa yang bername tag Kim Kyuhyun membentur tembok dengan keras, Kibum mendorongnya secara tiba-tiba setelah mereka berdiam cukup lama.

“Ku peringatkan padamu, jangan sekalipun menyapaku disini! Berpura-puralah tidak mengenaliku, jika kau berani menyapaku. Lihat saja akibatnya.” Sepasang mata itu berkilat dengan sorot kebencian yang menyala-nyala. Sorot mata yang tak seharusnya ditujukan seorang kakak pada adiknya.

“Tapi-” Ingin membantah tetapi nyalinya menciut saat melihat sang kakak yang bersedekap di hadapannya, perkataan itu tertahan begitu saja di lehernya.

Tubuh Kyuhyun juga masih lemas, efek obat yang nekat dikonsumsinya tanpa sarapan pagi hari tadi. Mengingat posisi dan kondisi fisiknya membuat Kyuhyun tersadar jika ia tidak akan mampu melawan.

“Dengar, jika kau mengadukan ini pada appa. Akan ku buat kau menyesal seumur hidupmu. Paham?” Jemari tangan kanan Kibum mencengkram rahang itu dengan keras, tak perduli kulit putih pucat itu menjadi merah.

“Ne. A-aku paham.” Dengan susah payah Kyuhyun menjawab, rahangnya terasa sangat sakit.

“Bagus.” Kibum tersenyum sinis lalu mulai melenggang pergi meninggalkan Kyuhyun seorang diri di koridor sekolah yang sepi.

Tadinya mereka berangkat bertiga dengan sang appa, setelah mengurus beberapa hal diruang guru, keduanya akhirnya dipersilahkan keluar untuk menuju kelas mereka. Kyuhyun masih ingat tatapan tajam Kibum saat mengetahui bahwa ia di tempatkan di kelas yang sama.

Tuan Kim sudah pergi setelah menyelesaikan registrasi dengan pihak sekolah, menyerahkan satu stel baju seragam yang langsung dikenakan Kyuhyun di dalam toilet ruang guru. Buku pelajaran juga sudah didapatkan tapi masalahnya semua buku itu berada di dalam tas ransel, membuat Kyuhyun merasakan sakit pada bahunya karena membawa beban berat.

Ia masih baru, loker untuknya masih belum tersedia karena urusan itu sepenuhnya di tangani oleh guru BK. Lengkap sudah kesengsaraan di pagi hari yang seharusnya menyenangkan ini.

.
.
.
.
.

Malam kedua di mansion…

Maknae keluarga Kim terlihat sedang merenung, berbaring dengan pandangan menerawang. Matanya terpejam saat ingatan memutar kejadian demi kejadian di sekolah tadi.

Terpaksa Kyuhyun memilih untuk berbicara bahasa inggris, mengatakan pada teman-teman barunya kalau ia berasal dari Amerika. Ia hanya tidak ingin Kibum marah, sehingga lebih memilih menceritakan statusnya bersama daddy dan Aiden, menyembunyikan statusnya sebagai adik Kibum juga putra bungsu Kim Jongwoon.

Tidak hanya itu, Kyuhyun juga mendapatkan tempat duduk yang semeja dengan Kibum. Senang? Sedih? Takut? Entahlah… Perasaannya sedang galau saat ini.

Alunan musik terdengar membuat lamunannya buyar, Kyuhyun meraih handphonenya yang berada di atas nakas. Dahinya mengernyit saat melihat nomor asing terpampang di layar, dengan ragu Kyuhyun mengangkat telfon itu.

Belum sempat ia bersuara, si penelfon lebih dulu berucap.
“Kyu?” Sebuah suara yang sangat familiar mulai terdengar, Kyuhyun menerbitkan seulas senyum saat mengenali si pemilik suara.

“Daddy?” Suaranya begitu riang, akhirnya ayah asuhnya menelfon juga. Remaja berkulit pucat itu langsung duduk dan menyandarkan punggungnya pada dashboar ranjang. Kegalauannya menguap begitu saja, tanpa bekas seolah hal tadi tidak pernah terjadi.

“Ah…akhirnya kau menjawab telfon dariku.” Terdengar helaan nafas lega, Kyuhyun yakin bahwa ayah asuhnya telah berhasil melawan para agen yang mengepung rumah mereka.

Kemampuan daddy-nya sangat mahir meskipun kadangkala ia teledor memprediksi pergerakan lawan, itulah salah satu alasan yang membuatnya begitu enggan untuk pergi. Aiden pasti menggunakan taktik konyol untuk mengalahkan para agen.

“Daddy, are you okay?” Sejatinya Kyuhyun memang khawatir pada ayah asuhnya. Ia ingin memastikan bahwa daddynya tidak terluka maupun mengalami cidera.

Kebiasaan buruk seorang Denis adalah selalu menunjukkan lukanya pada banyak orang, tujuannya hanya ingin diperhatikan. Sifat kekanakan yang paling dibenci oleh Kyuhyun.

“I am fine.” Jawaban singkat dengan nada riang dari sebrang telfon itu sudah mewakili segalanya.

Hening beberapa saat. Kyuhyun memilih untuk keluar dari kamar, berjalan pelan menuju balkon dengan telepon yang masih menempel di telinga kanannya. Ia menunggu daddynya berbicara lagi, pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.

“Kyu, apa kau belum menceritakan semuanya pada keluargamu?” Seketika wajah remaja itu merengut, topik yang paling dihindarinya terucap juga.

“Belum dad.” Singkat, tak ada jawaban lain yang ia persiapkan, kesibukan baru di sekolah membuatnya lupa akan beberapa hal kecil. Sebagai siswa baru, Kyuhyun mendapatkan banyak tugas yang harus disalinnya di buku catatan yang pasti masih kosong melompong.

“Lalu kapan?” Suara di sebrang telepon terdengar gusar, Kyuhyun tau bahwa ayah asuhnya pasti tengah jengkel. Ia memang sering menunda waktu untuk mengatakan alasan pelariannya ke Korea Selatan dan daddy-nya cukup peka akan hal itu.

“Aku akan menceritakannya jika semuanya sudah stabil.” Sekali lagi hanya itu yang mampu Kyuhyun ucapkan, ia memang butuh waktu untuk menceritakan semuanya. Menunggu kedua kakaknya berubah menjadi baik, meskipun ia tau bahwa hal itu tak mungkin terwujud dalam waktu dekat.

“Apa mereka memusuhimu?” Oh, great. Tanpa sadar Kyuhyun mencengkram pembatas balkon cukup erat, kali ini ia harus memaksa otak jeniusnya berpikir keras untuk menemukan jawaban.

“No, dad. Jongwoon appa sangat baik, hyungdeul juga ramah.” Biarlah Kyuhyun menanggung dosa, toh ia berbohong untuk menutupi kelakuan buruk kedua kakak kandungnya. Ia bukanlah adik durhaka yang kelewat enteng mengumbar kejelekan, baginya itu hal terkonyol yang takkan berefek baik.

“Syukurlah kalau begitu. Daddy harap kau segera menceritakan hal ini Kyu, bagaimanapun juga mereka harus tau. Hanya Kibum yang bisa membantumu, daddy akan mengurus yang disini.” Remaja berkulit pucat itu juga tau, ia sadar sepenuhnya jika hanya Kibum hyung-nya yang bisa membantu. Terlibat dalam masalah antar agen membuatnya tak bisa berkutik, hanya Kibum yang memiliki kemampuan nyaris setara dengannya. Sialnya hyung yang bisa membantu malah bersikap dingin padanya.

“Yes dad, but not for now. Aku akan menceritakannya jika saatnya sudah tepat.” Berkilah lagi, hanya itu yang sekali lagi mampu dilakukannya.

“Baiklah kalau begitu, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah! Donormu belum ada Kyu.” Kyuhyun mengulum senyum, penyakitnya memang semakin parah tiap harinya. Inilah yang membuatnya melarikan diri untuk sementara dari para agen, tidak mungkinkan jika ia melawan puluhan bahkan ribuan orang dengan fisik yang kurang sehat. Kyuhyun masih cukup waras untuk berminat menghampiri kematian secara suka rela, lagipula ia butuh strategi. Pelarian ke Korea tidaklah buruk, lingkungan sekolah menerimanya dengan tangan terbuka. Hanya satu nilai minus yakni sikap dingin kedua hyung-nya yang membuat Kyuhyun ingin gigit jari.

“Eum,… Daddy sekarang tinggal dimana?” Pengalihan pembicaraan adalah hal yang tepat, lagipula Kyuhyun juga tau bahwa daddynya tidak mungkin tetap tinggal di Amerika. Tempat itu terlalu riskan dengan banyaknya CCTV di setiap tikungan jalan, mereka bisa tertangkap jika nekat tetap bertahan disana.

“Daddy tingggal di Prancis, Aiden mempunyai rumah disini. Lagipula sekarang ini daddy sudah mempunyai pekerjaan tetap, kami sudah mengubah identitas dengan nama korea.” Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya, ia ingat pernah satu kali pergi bersama Aiden ke Paris saat liburan kenaikan kelas. Rumah milik kakak asuhnya memang tergolong cukup besar dan mewah, Kyuhyun bersyukur karena hobi Aiden mengoleksi rumah di banyak tempat sangatlah menguntungkan di saat seperti ini.

“Benarkah? Jadi nama daddy dan Aiden sekarang siapa?” Penasaran itu diperbolehkan.

“Aku Park Jungsoo, sedangkan Aiden Lee Donghae.” Sekali lagi dahi Kyuhyun mengernyit, ‘marga daddy dan Aiden berbeda’ itulah kesimpulannya. Nama daddy-nya tak berubah, mungkin yang dimaksudkan adalah penghapusan identitas sebagai Denis dan Aiden.

“Kenapa marga daddy dan Aiden berbeda?” Ia tetap butuh alasan logis, semuanya terlalu rumit untuk dimengerti.

Helaan nafas terdengar dari sebrang sambungan telfon. “Ini demi keselamatan kita Kyu, Aiden memilih menggunakan marga ibunya.” Kyuhyun mengangguk, tanpa sadar ia juga mengenang almarhum ibunda asuhnya. Sosok ibu yang penuh kelembutan dan selalu memperlakukan Kyuhyun dan Aiden dengan seimbang, padahal ia hanyalah anak asuh. Takdir mengejutkan menimpa wanita cantik itu, ia meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit kanker otak. Tuhan memilih untuk mengambil seseorang yang menurut Kyuhyun sangat baik.

“Ah jadi begitu. Hmm, dad.” Keraguan menyusup, ia sedikit ragu mengutarakan pikiran yang beberapa hari ini sudah membuat fokusnya sedikit terusik.

“Why?” Denis mengerti jika putra asuhnya ingin bertanya.

“Kenapa saat bayi aku harus diasuh oleh daddy dan mom?” Pertanyaan itu akhirnya lolos juga, Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan memilih membelakangi balkon. Memunggungi pemandangan indah halaman depan mansion Kim yang terlalu megah.

“I am so sorry, Kyu… Kalau masalah itu, daddy tidak bisa menjelaskan. Tanyalah pada Jongwoon yang sebenarnya, daddy hanya menjagamu sesuai permintaan appamu.” Kekecewaan itu ada, ia sadar jika ada hal rumit di masa lalu yang menyebabkan dirinya diasuh oleh Denis dan Sera (orangtua asuhnya). Tapi Kyuhyun tak menemukan jawabannya, padahal ia sangat penasaran akan aksi pengucilannya.

“Oh jadi begitu.”

“Kyu, daddy harus segera pergi. Sebentar lagi daddy akan berangkat bekerja. See you…”

“Eum, see you dad.” Kyuhyun tersenyum masam, ia tau jika daddynya hanya berdalih untuk mengakhiri percakapan mereka.

‘Aku harus mencari tau penyebab pengasinganku dari keluarga ini’. Itu adalah misi pribadinya. Sebagian orang berkata jika masa lalu tak perlu diungkit maupun digali, tapi bagi Kyuhyun ia perlu menggali masa lalu agar seluruh keganjilan ini terungkap.

Awalnya ia menyangka jika keluarga kandungnya mengalami kesulitan dalam prekonomian. Ia tentu curiga karena sejak bayi, appa dan kedua hyungnya tak pernah sekalipun menengoknya ke Amerika, menelfonpun tak pernah. Hanya berdasarkan kabar yang diperolehnya dari Denis setiap tahun tentang keluarga kandungnya.

Mirisnya, sebulan lalu ia baru bisa melihat potret keluarga kandungnya dari sebuah foto yang disodorkan oleh daddy-nya. Kehangatan keluarga bagaikan angin lalu yang hanya menjanjikan harapan kosong, Kyuhyun sadar jika ia dikucilkan selama ini karena sebuah alasan yang kuat.

.
.
.
.
.

Ini hari ketujuh Kyuhyun tinggal di Korea, ia mendesah frustasi saat melihat tumpukan baju kotor di keranjang cucian yang sudah menggunung.

Masalahnya, di mansion mewah ini tidak ada pembantu yang melayani 24jam. Mereka hanya datang saat jam 8 pagi untuk membersihkan rumah lalu pulang sebelum pukul 11. Tuanz Kim Jongwoon sangatlah tegas mendidik anaknya, semua pekerjaan yang menyangkut barang pribadi dikerjakan sendiri. Dan ini adalah hari Sabtu, seluruh pembantu diliburkan dari tugas.

“Hyung?” Kyuhyun memanggil Kibum yang sedang membaca buku di sofa ruang tamu.

“Hyung?” Tetap tak ada respon. Mungkinkah Kim Kibum terlalu fokus hingga tidak mengindahkan apapun.

“Kibum hyung!” Baiklah, anggap saja urat malu Kyuhyun sudah putus. Tak ada cara selain bertanya pada hyungnya dengan memanggilnya lebih nyaring.

Merasa terganggu dengan lengkingan itu. Kibum menutup bukunya cukup keras, ia berdecak lalu menatap Kyuhyun dengan nyalang. “Ck, wae?”

“A-aku ingin bertanya dimana tempat mencuci baju?” Lidahnya mendadak kaku, tatapan mata hyungnya sungguh menakutkan. Nyali yang tadi dikumpulkan seolah menguap hanya dengan tatapan tajam itu.

“Di ruangan pojok dekat halaman belakang.” To the poin tanpa basa-basi adalah gaya seorang Kim Kibum.

“Eh?” Kyuhyun terkejut, ruangan gelap yang dikiranya sebuah gudang ternyata adalah tempat mencuci. ‘Aigoo… haruskah aku mencuci di ruangan itu’.

“Kenapa? Jangan bilang jika kau selalu mencucikan baju diluar.” Skak mat, tebakan Kibum benar, baju-bajunya memang secara rutin diambil dan diantar oleh petugas laundry setiap tiga hari.

“Ne hyung, di Amerika aku selalu mencuci baju di luar.” Tak ada alasan untuk berkilah, jujur terasa jauh lebih baik dalam keadaan tertangkap basah seperti ini.

“Cuci bajumu sendiri, jika kau tidak bisa memakai mesin, pakai tanganmu saja. Ini di Korea, jadi jangan samakan kehidupanmu saat di Amerika.” Kyuhyun mengatupkan mulutnya rapat, hyungnya benar-benar mengetahui bahwa ia tidak bisa mencuci sendiri. Apakah hyungnya itu seorang psikolog sehingga bisa menebak bahasa tubuhnya. Oh, itu mustahil karena Kim Kibum masih berada di tingkat tiga Senior High. Ngomong-ngomong, barusan adalah kalimat terpanjang yang pernah Kim Kibum ucapkan padanya.

“Cihhh… Dasar manja!” Kibum kembali membuka buku, membalik-balikkan halaman lalu mulai melanjutkan bacaannya.

Remaja berkulit pucat itu masih terpaku di tempat, matanya bergerak-gerak gelisah. Ia memang belum beranjak dari posisinya karena masih ada hal yang ingin ditanyakannya.
“Eum, hyung?” Kemajuan dalam mengucapkan kosa kata sangat dirasakan Kyuhyun. Logat inggrinya sudah hilang meskipun belum 100%.

“Apalagi sih?” Kibum menutup bukunya kembali dengan keras. Jengkel setengah mati karena rutinitasnya terganggu oleh cicitan anak Amerika.

“Kalau letak supermarket dimana?” Kyuhyun menunduk, lebih memilih menatap lantai marmer daripada poker face hyungnya. Salah satu ekspresi andalan Kim Kibum saat merasa terusik, sialnya Kyuhyun adalah pelakunya.

“Blok paling ujung kanan jika kau keluar dari rumah ini. Sudah, apa ada lagi?”

“Aniya, go-mawo hyung.” Kyuhyun langsung berlari kecil menuju kamarnya, ia segera mengambil keranjang baju kotor lalu membawanya ke ruang mencuci.

Di ruang pencucian…

Sepasang netra milik remaja pucat itu menatap nanar dua mesin cuci yang ada, sedari tadi ia mencoba menyalakan mesin itu tetapi tidak bergerak juga. “Daddy, aku menyesal. Seharusnya aku belajar mencuci. Aigoo… Aku tidak paham caranya!” Padahal di iklan sabun, model ibu-ibu cantik itu hanya memasukkan pakaian dan mesin berputar dengan sendirinya.

Merasa tak menemukan titik terang,  ia menanggalkan kaos lengan panjangnya dan menyisakan A-shirt. “Hah, terpaksa aku mencuci dengan tangan.” Kyuhyun mengambil kembali bajunya dari mesin cuci, menaruhnya di dalam bak besar dan mengisi bak itu dengan air.

Matanya melongok ke kanan dan kekiri, tersenyum tipis saat menemukan detergent yang berjajar rapi di sebuah laci yang menempel di dinding. Ia mengambil detergent yang masih utuh dengan kemasan paling besar, membaca petunjuk penggunaan lalu mulai menggenggam sendok ukur untuk menaburkan bubuk detergent sesuai takaran.

‘Cukup satu sendok untuk satu kali cuci’ dahinya mengernyit sementara bibirnya mengerucut.

‘satu kali cuci itu maksudnya apa?’.
Cukup lama Kyuhyun berpikir, memandang tumpukan bajunya yang terendam air di bak lalu memandang detergent yang ada di tangannya, terus berulang hingga ia mengendikkan bahu acuh.

‘Satu kali cuci = satu stel baju = satu takaran, satu hari tiga stel baju dikali tujuh (satu minggu) = dua puluh satu sendok detergent.’Remaja berkulit pucat itu berjongkok, menyendok detergent sesuai perhitungan asal-asalannya. Kyuhyun tidak mengucek bajunya, melainkan memutar-mutarnya seperti mesin cuci. Masih berdasarkan iklan, yang diingatnya adalah baju-baju akan diputar dalam mesin cuci.

Seharusnya Kyuhyun menggeser fokusnya saat membaca kemasan detergent, bukankah disitu ditulis step by step cara mencuci dengan tangan,  kata yang tertulis adalah ‘mengucek’ bukan ‘memutar’. Tapi biarlah, toh maknae Kim sudah terlanjur menjadikan iklan sebagai panduannya.

Busa sabun meluber hampir memenuhi ruang penyucian, senyuman girang itu terbit saat acara ‘memutar baju dalam bak’ sudah selesai, 30 menit adalah waktu yang digunakan Kyuhyun. Ia mengambil bajunya satu-persatu, meletakkannya pada jemuran. Setelah selesai, ia mengambil selang dan menyemprot bajunya secara bergantian.

Bukankah setelah dicuci harus dibilas? Seperti manusia yang mandi dengan sabun, maka tubuh perlu diguyur dengan air shower. Bersenandung kecil sambil menyiram busa sabun yang meluber di lantai, setelah itu mengembalikan bak cucian ke tempatnya semula.

‘Sekarang tinggal menjemur baju.’ Kyuhyun menggeret jemuran dengan perlahan ke halaman belakang, bajunya sudah tersampir rapi hanya tinggal mengeringkannya.

Satu

Dua

Dua jemuran sudah berjajar rapi di halaman belakang, Kyuhyun merenggangkan tubuhnya yang kaku. “Akhirnya selesai juga. Hahhh… Punggungku sakit sekali.”

Sepasang kaki itu bertolak dari halaman belakang, menapak pelan menuju dapur. Tangan kanannya yang masih basah membuka kulkas untuk meraih sebotol air mineral dingin.
‘Hahhh… segarnya.’ Kelegaan itu terasa saat air dingin meluncur dalam kerongkongannya, menjemur pakaian di halaman belakang sungguh membuat tubuhnya bermandikan keringat.

“Kau ingin ke supermarket kan. Belikan ini, jangan sampai ada yang kurang.” Sebuah suara terdengar membuat Kyuhyun meletakkan botol kembali ke dalam kulkas, melangkah menghampiri Kibum yang nyatanya sedang berdiri di dekat meja makan.

Tangannya meraih kertas catatan itu, menggenggamnya tanpa melihat isinya. “Ne hyung, tapi… em, uangnya?”

Bukankah jika disuruh belanja itu ada uang? Jadi sudah sewajarnya Kyuhyun bertanya. Aiden dulu juga sering menyuruhnya belanja dan dengan baik hati memberinya bonus berupa traktiran ice cream.

Menurut Aiden ‘belanja itu membosankan karena banyak gadis yang menggodanya terang-terangan’, Kyuhyun memang tidak mengingkari jika kakak asuhnya itu memiliki paras diatas rata-rata. Jika ia seorang gadis, Kyuhyun sudah pasti menempatkan Aiden sebagai list teratas nominasi lelaki tampan. Ya, hanya tampan bukan idaman.

“Gunakan uangmu saja, kau pasti punya banyak uang kan.” Kibum berkata cukup ketus lalu melenggang pergi begitu saja.

“Eoh…” Kyuhyun berjalan gontai menuju kamarnya, masuk ke dalam lalu mengambil satu stel baju untuk dikenakannya setelah ini. Ia memutuskan mandi sebentar sebelum pergi berbelanja, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.

.
.
.
.
.

Hal yang dilakukan Kyuhyun saat ini adalah merutuki kebodohannya, blok paling ujung kanan ternyata lumayan jauh dari rumah. Sekitar 5 kilometer, sialnya ia pergi dengan berjalan kaki. Seharusnya ia membawa salah satu sepeda yang ada di gudang, bukankah lingkungan tempat tinggalnya adalah kompleks perumahan elit yang luasnya minta ampun.

Dengan malas Kyuhyun mulai mengambil troli, membuka catatan yang tadi diberikan Kibum. Dahinya berkerut samar saat melihat tulisan yang tampak sedikit berantakan. Huruf hangul yang tertulis kadangkala saling tumpang tindih, Kyuhyun yang memiliki kemampuan membaca tulisan hangul kurang baik, hanya menghela nafas frustasi. ‘Kenapa aku harus tinggal di Korea yang memiliki huruf keriting begini sih?’

Ya, menurutnya huruf hangul itu mirip seperti mie kriting, melengkung-lengkung, beda coretan beda arti. Kyuhyun bersandar pada sebuah pilar, ia membaca pesanan Kibum dengan perlahan dan mengingatnya baik-baik.

Blok makanan instan:
“Ramen, Spageti, saus tomat, bubuk cabe, minyak goreng, gula, kopi, teh,  garam, roti, selai coklat, susu vanilla, wine, dan cola.”

Blok bahan makanan mentah:
“Daging ayam, daging sapi, bawang putih, kubis, wortel, telur, jamur, kentang, paprika, sosis, ikan tuna, udang, dan salmon.”

Blok perlengkapan mandi:
“Sikat gigi, pasta gigi, sabun, pengharum ruangan, mouthwash, dan shampo.”

Bibir itu terbuka lebar, Kyuhyun baru sadar bahwa Kibum hyung menyuruhnya belanja untuk keperluan rumah, bukan titipan sederhana yang bersifat individu.
“Hahh… kenapa banyak sekali titipannya? Padahal aku hanya membeli susu coklat, botol minum, dan tisu.”

Baiklah, sepertinya Kyuhyun harus rela deposit tabungannya terkuras untuk membeli segala kebutuhan rumah tangga. ‘Kibum hyung mengerjaiku, mustahil jika appa tidak memberikan uang untuk belanja sebanyak ini.’

Dengan enggan maknae Kim mulai mendorong trolinya, mengambil setiap barang yang tercantum di catatan.

2 jam 45 menit. Kyuhyun menghabiskan waktu cukup lama untuk berbelanja, ia kesulitan memilih merek barang yang harus dipilihnya.

“Totalnya 6.976.000 won.” Penjaga kasir menyebutkan total harga pembelian.

“Oh, ini.” Kyuhyun menyerahkan kartu ATMnya sambil berpikir keras menghitung total pembelian dari won menjadi dolar. Bibirnya mengerucut saat menyadari nominal itu cukuplah besar, untung saja tabungannya mencapai lebih dari 5 miliar dolar.

Salahkan daddy yang selalu mengedepankan moto ‘hidup itu harus hemat’, itu memang benar tetapi kenyataannya Denis terlalu hemat hingga bisa dibilang pelit. Otaknya tidak ingin bersusah payah memperkirakan berapa deposit total daddy-nya. Rupanya sifat hemat merangkap pelit ada berkahnya juga disaat seperti ini.

Kyuhyun menerima struk belanja yang panjangnya nyaris satu meter, menggulung kertas itu lalu memasukkannya dalam saku. Kedua tangannya menjinjing 4 kantung plastik besar, berjalan pelan menyusuri trotoar menuju rumah. Ia tidak membawa uang tunai jadi meskipun ada bus, tak ada taxi yang hilir mudik meskipun wilayah supermarket terbilang ramai.

“Aku pulang!” Kyuhyun berseru cukup kencang, ia berhasil masuk ke dalam rumah setelah satpam membantunya membuka pintu.

“Dari mana saja kau?” Suara ketus itu membuat Kyuhyun berjengit kaget, ia membalikkan badan dan mendapati Heechul sedang menatapnya tajam.

Rupanya hyung tertua sedang murka dengan mata yang melirik kesal ke arah jam dinding, mungkin isyarat untuk menegaskan kedisiplinan waktu. “Kau belanja apa hingga pulang jam segini?”

“Mianhae hyung, aku agak lama membaca tulisan hangul, lalu merek barangnya juga banyak jadi aku bingung memilihnya, aku juga tidak membawa sepeda.” Kyuhyun menjelaskan dengan takut-takut, suaranya begitu lirih nyaris menyamai bisikan.

Baiklah, alasan itu terdengar cukup logis di telinga seorang Kim Heechul. “Sudahlah, cepat masukkan dalam kulkas! Lalu tata sisanya di laci atas.” Heechul mengibaskan tangan, berlalu dengan acuh menuju kamarnya.

“Ne hyung.” Kyuhyun melanjutkan langkahnya, meletakkan semua kantung belanja di atas meja makan. Menjinjing salah satunya yang berisi bahan makanan mentah lalu menatanya di dalam kulkas.

1 jam dihabiskannya untuk sekedar menata, Kyuhyun mengambil botol minum yang tadi ia beli lalu mengisinya dengan air panas, mengocoknya sebentar kemudian membuang air itu di washtafel. ‘Botol minumku sudah siap digunakan sekarang.’

Wajah itu tersenyum, dengan semangat Kyuhyun membuka kaleng susu coklatnya lalu mulai membuat sebotol susu hangat. ‘Hahh… akhirnya selesai juga.’ Kyuhyun membawa botol yang sudah terisi susu coklat hasil karya pertamanya menuju kamar, sebelah tangan yang lain membawa kantung plastik kecil berisi sekotak tisu dan kaleng susu coklatnya tadi.

Hari yang berat, ia hanya berdoa agar tidak jatuh sakit karena kelelahan. Kyuhyun memutuskan menelan sebutir obat dengan air putih di meja nakas, menyimpan susu coklatnya ke atas nakas di sebelah ranjang kemudian beristirahat.
Dua jam lagi makan malam dimulai, ia tidak ingin menghadiri acara wajib itu dengan wajah kusut juga mengantuk. Jadi beristirahat sejenak tidak ada salahnya, tubuhnya memang terasa sangat lelah.

To be continue

Karya lama yang ad folder… Kkkkk
Daripada jamuran, q posting dulu chap awalnya..
Review please…

My Blood of Twins (chapter 2)

Tittle : My Blood of Twins

Genre :  angst, family, and school life

Cast :
Cho Kyuhyun (Choi Kyuhyun)
Choi Siwon
Kim Kibum (Choi Kibum)
Kim Heechul
Kembaran Kyuhyun masih dirahasiakan. Mohon bersabar untuk next chapter. Hihihihi

Summary : Sebuah kenyataan yang mengejutkan terkuak dalam keluarga Choi. Dua putra Choi Siwon yang sebelumnya akrab menjadi sedikit renggang saat seseorang mulai menyusup dalam mansion mewah. Orang yang tak pernah mereka kenal dan mereka harapkan, namun berbanding dengan Choi Siwon yang sangat menyayangi pendatang baru di kehidupannya.

Baca lebih lanjut

Asterium (chapter 15)

Exif_JPEG_420
Exif_JPEG_420

Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert  (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)

Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^

ADA NOTES DI BAWAH, MOHON DIBACA DENGAN BAIK!!!

Happy Reading…!

Baca lebih lanjut

Asterium (chapter 14)

pizap.com14519690288121

Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)
Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^

Baca lebih lanjut

Asterium (chapter 13)

pizap.com14519690288121

 

Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)

Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)
Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^

Baca lebih lanjut

MY BLOOD OF TWINS (chapter 1)

Tittle : My Blood of Twins

Genre :  Sad, family, and school life

Summary : Sebuah kenyataan yang mengejutkan terkuak dalam keluarga Choi. Dua putra Choi Siwon yang sebelumnya akrab menjadi sedikit renggang saat seseorang mulai menyusup dalam mansion mewah. Orang yang tak pernah mereka kenal dan mereka harapkan, namun berbanding dengan Choi Siwon yang sangat menyayangi pendatang baru di kehidupannya.

Teaser….

Baca lebih lanjut